Abstract
Dalam melaksanakan Praktek magang yang dipilih mahasiswa dalam program MBKM. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk menggali seni tradisi yang hampir mengalami kepunahan, yang salah satunya adalah seni lukis Wayang Kamasan. Keunikan lukisan Wayang Kamasan memiliki perbedaan karakter serta proses dan teknik dalam melukis wayangan kamasan. Meroket perkembangan zaman teknologi canggih dan munculnya teknologi digital, berdampak terhadap menurunnya minat generasi milenial terhadap keberadaan seni tradisi yang adiluhung. Teknik melukis wayang kamasan tidak lagi diminati karena banyak kalangan anak muda yang kurang berminat dan menggeluti seni lukis tradisi wayang kamasan, dikarenakan melukis dengan teknik tradisi dianggap lebih rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan menggunakan media digital. Melukis dengan menggunakan media digital dianggap lebih evisien dan mempersingkat waktu dalam proses menggambar maupun melukis. Kasus tersebut memerlukan pemikiran dan langkah positif dari pihak instansi terkait baik kalangan pemerintah maupun non pemerintah, dalam upaya melestarikan keberadaan seni tradisi adiluhung yang merupakan kekayan lokal genius.Upaya melestarikan keberadaan seni tradisi, ISI Denpasar merupakan lembaga Pendidikan seni yang ada di Bali, dengan memberikan peluang mahasiswa dalam melangkah dan turut berperan dalam melegimatasi keberadaan lukis tradisi khususnya lukis klasik wayang kamasan dengan mempelajari teknik melukis sekaligus ingin melestarikan budaya dan tradisi agar tidak punah.The art of Kamasan puppet painting is a great tradition that deserves attention from the condition of its existence which is experiencing a decline in the next generation of its continuity. This phenomenon is the impact of the skyrocketing modern technology that colonizes the world in seconds. The emergence of digital technology that offers convenience and instant affects the mindset of the young generation of Kamasan Village, eliminating the traditional art of wayang kamasan that is able to sweep its era. This phenomenon is very interesting to explore more closely through the Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) program implemented directly in the field, with the aim of absorbing the process of painting wayang kamasan. Data collection and data analysis use qualitative methods, where researchers are involved in the daily activities of the artists at the Wasundari Wayang Kamasan classical painting studio. In the implementation of the process of painting wayang kamasan, the threestage method and steps of the art creation process are applied to discuss the issues raised, namely the process of painting wayang kamasan through a hierarchical perspective born from the concept of Tri Loka, understanding the figures and characters of wayang, the substance of the literary text that is the source of creation, and understanding the concept of how to read the visual narrative of wayang kamasan painting. The organization of puppet figures or characters that function as “text” in visual language, which can represent the substance of the “context” of the literary text illustrated in the form of puppet paintings. This stage of the painting process is considered complicated and time-consuming, not worth the work with the final result.
Cite
CITATION STYLE
Putra Astawa, I. G., Berata, I. M., & Mertanadi, I. M. (2025). STUDI PROSES MELUKIS WAYANG KAMASAN DI SANGGAR LUKIS KLASIK KAMASAN WASUNDARI KAMASAN, KLUNGKUNG, BALI. HASTAGINA: Jurnal Kriya Dan Industri Kreatif, 5(01), 57–69. https://doi.org/10.59997/hastagina.v5i01.4264
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.