Determinants of Commuting and Circular Labour Migration in Gerbangkertasusila Region

  • Pratomo D
  • Yuniashri E
  • Arisetyawan K
  • et al.
N/ACitations
Citations of this article
21Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

This study investigates the dynamics of labour migration in the Gerbangkertasusila (Greater Surabaya) region and identifies various factors influencing workers’ decisions to commute, migrate circularly, or permanently. Utilizing data from the 2023 National Labour Force Survey (SAKERNAS) and applying a multinomial logit model, the analysis addresses research gaps related to complex migratory patterns in rapidly urbanizing areas of Indonesia. The result suggested that individuals with higher education levels are significantly more likely to commute than to migrate permanently, while employment in the formal, service, and manufacturing sectors also increases the likelihood of commuting and circular migration. Married individuals are more inclined toward permanent migration, driven by a preference for family stability, whereas urban residents are less likely to engage in circular migration. These findings highlight  the need for targeted urban and labor policies that address mobility preferences based on education, sectoral employment, and household structure to ensure inclusive and balanced regional development. The study suggests that to support inclusive regional development, policymakers should invest in integrated transportation infrastructure, design mobility-support programs for circular migrants, and ensure gender-sensitive commuting systems. These measures will help manage urban growth and enhance equitable access to employment across the region.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika migrasi pekerja di kawasan GERBANGKERTASUSILA (Surabaya Raya) dan berbagai faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan analisis logit multinomial untuk mengetahui kemungkinan pilihan migrasi pekerja yang tinggal di kawasan GERBANGKERTASUSILA, meliputi migrasi komuter, migrasi sirkuler, dan migrasi permanen. Dataset yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2023 yang disusun oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kesenjangan penelitian yang diidentifikasi dalam konteks ini berpusat pada kompleksitas dan tantangan pola migrasi di Indonesia, terutama di wilayah yang mengalami urbanisasi pesat seperti GERBANGKERTASUSILA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan yang lebih tinggi mendorong individu untuk menjadi komuter daripada bermigrasi permanen, meskipun faktor lain seperti status ekonomi dan keluarga juga memainkan peran penting. Individu yang sudah menikah cenderung mendorong migrasi permanen untuk memprioritaskan stabilitas dan struktur dalam kehidupan mereka. Orang yang tinggal di daerah perkotaan cenderung tidak memilih migrasi sirkuler, sementara pekerja di sektor jasa cenderung menjadi komuter karena konsentrasi pekerjaan di kota dan kebutuhan untuk interaksi tatap muka. Pekerja di sektor formal juga cenderung menjadi komuter dan menjadi migran sirkuler.

Cite

CITATION STYLE

APA

Pratomo, D. S., Yuniashri, E., Arisetyawan, K., Aminullah, B. A., & Natalia, C. (2025). Determinants of Commuting and Circular Labour Migration in Gerbangkertasusila Region. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 14(2), 240–247. https://doi.org/10.23887/jish.v14i2.92247

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free