Abstract
Epistelogi Islam menempatkan akal sebagai salah satu sumber pengetahun, di samping wahyu. Namun sampai saat ini umat Islam masih berbeda pandangan perihal hubungan akal dan wahyu, terutama terkait fungsi akal. Maka penting bagi ummat Islam, merumuskan konsepsi epistemologis yang holistik dan memadukan keduanya. Ibnu Khaldun merupakan filosof muslim yang mempunyai konsepsi epistemologis, yang menjelaskan potensi akal dan kedudukannya di samping wahyu. Artikel ini bertujuan untuk mengetahuai konsepsi Ibnu Khaldun tentang akal, potensinya dalam perolehan ilmu pengetahuan, dan eksistensinya dalam epistelogi Islam. Studi menggunakan analisis deskriptif kualitatif melalui metode literer, dengan menelusuri pemikiran Ibnu Khaldun dari kitab Muqaddimah sebagai sumber primer, dan buku-buku lain yang relevan. Hasil studi didapatkan bahwa akal pikiran berperan penting dalam perolehan pengetahuan. Akal merupakan potensi untuk memahami segala sesuatu, memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan kemampuan manusia membuat analisis dan sintesis sebagai hasil dari proses berpikir (af`idah). Proses berpikir itu berlangsung berdasarkan tingkatannya, yang terbagi menjadi tiga: `aql tamyizi, `aql tajribi, dan `aql nadhari. Berdasarkan itu, ilmu pengetahuan dibedakan dalam dua kategori: ilmu naqliyyah dan aqliyyah. Konsepsi ilmu Ibnu Khaldun bersifat integral, dan relevan dengan situasi umat Islam saat ini, terutama dalam konteks pendidikan Islam dan tantangan perkembangan ilmu pengetahuan.
Cite
CITATION STYLE
Nasrullah, A. (2024). POTENSI AKAL MANUSIA DAN PEROLEHAN ILMU PENGETAHUAN DALAM PEMIKIRAN EPISTEMOLOGIS IBNU KHALDUN. AZKIYA, 7(1), 1–22. https://doi.org/10.53640/azkiya.v7i1.1625
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.