Abstract
Persalinan merupakan proses alamiah untuk melahirkan hasil konsepsi yang cukup bulan berupa janin dan plasenta. Persalinan sectio caesarea umumnya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena beresiko terjadi komplikasi pada ibu atau janin. Retensio plasenta adalah lepasnya plasenta melebihi waktu setengah jam setelah bayi lahir atau kondisi plasenta sebagian telah lepas sehingga memerlukan tindakan segera plasenta manual. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien postpartum sectio caesarea dengan terapi murottal. Penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan kepustakaan disertai penerapan praktik berbasis bukti pada ibu postpartum sectio caesarea. Evidence based nursing yaitu menerapkan terapi murottal pada pasien perempuan, usia 28 tahun, postpartum dengan tindakan sectio caesarea atas indikasi retensio plasenta. Terapi distraksi murottal dilakukan selama 15-20 menit saat nyeri muncul dan setelah 2 jam pemberian analgetik, terapi dilakukan selama tiga hari untuk menurunkan rasa nyeri pada ibu postpartum. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor intensitas nyeri secara signifikan dari skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 3 pada hari ketiga. Terapi murottal merupakan salah satu terapi non farmakologis dengan teknik distraksi dapat menurunkan skala nyeri pada pasien postpartum dengan masalah nyeri akibat pembedahan.
Cite
CITATION STYLE
Nur Arianti, A., & Simanjuntak, M. (2023). Penerapan Terapi Murottal pada Asuhan Keperawatan Ibu Postpartum Sectio Caesarea atas Indikasi Retensio Plasenta. Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang Kesehatan, 7(1), 1–11. https://doi.org/10.36971/keperawatan.v7i1.134
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.