Abstract
Asma adalah penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang melibatkan banyak sel dan faktor. Secara fisiologis asma ditandai dengan adanya penyempitan saluran pernafasan yang menyebabkan peningkatan hipersensitivitas yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada sesak, dan batuk, terutama pada malam hari dan atau pagi hari. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan jumlah penyakit asma tahun 2019 sekitar 235 juta. Asma adalah masalah kesehatan di seluruh dunia, yang mempengaruhi kurang lebih 1-18% populasi di berbagai negara di dunia. Aminofilin merupakan obat asma yang paling umum digunakan untuk mengobati asma di Indonesia dan termasuk obat dengan rentang terapi sempit yang tinggi resiko terhadap kejadian adverse drug reaction (ADR). Penggunaan aminofilin yang kurang tepat akan menimbulkan banyak efek samping yang dapat berpotensi berakibat fatas dan justru dapat membuat seseorang mengalami masalah medis akibat efek samping yang lebih berat dibandingkan masalah medis utamanya. Penulisan artikel review ini dimaksudkan untuk menganalisis efektivitas serta resiko aminofilin pada pengobatan penyakit asma dengan metode studi literatur yang diambil dari berbagai jurnal internasional maupun nasional. Berdasarkan hasil studi literatur tersebut didapatkan hasil bahwa aminofilin dalam penggunaanya menghasilkan efek toksik yang lebih besar dibandingkan efektivitasnya.
Cite
CITATION STYLE
Rahmawati, N. D., Hilmi, I. L., & Salman, S. (2023). Review Analisis Efektivitas dan Risiko Toksisitas Aminofilin pada Pengobatan Penyakit Asma. Journal of Pharmaceutical and Sciences, 6(1), 95–99. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v6i1.14
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.