Abstract
Pendahuluan. Modifikasi dari kriteria klinis infeksi menurut International Disease Society of America dan International Working Group on Diabetic Foot (IDSA-IWGDF) diperlukan untuk mengevaluasi infeksi pada ulkus kaki diabetik setelah pengobatan. Prokalsitonin (PCT), penanda infeksi yang spesifik untuk infeksi bakteri diketahui bermanfaat dalam menegakkan diagnosis infeksi pada ulkus kaki diabetik. Namun, peranannya dalam menentukan ada tidaknya infeksi pada ulkus kaki diabetik setelah pengobatan belum diketahui, begitu juga nilai tambahnya terhadap penanda klinis infeksi. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan penanda klinis infeksi menurut IDSA-IWGDF yang dimodifikasi dan PCT dalam mengevaluasi masih ada atau tidaknya infeksi pada ulkus kaki diabetik setelah pengobatan.Metode. Dilakukan studi potong lintang berbasis riset diagnostik pada penyandang diabetes dengan ulkus kaki terinfeksi yang sedang mendapatkan pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada kurun waktu Oktober 2011-April 2012. Pasien yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian dilakukan penilaian infeksi pada ulkus menggunakan kriteria klinis infeksi menurut IDSA-IWGDF yang dimodifikasi (eritema, edema, nyeri, dan panas) dan pemeriksaan PCT. Kemudian dinilai kemampuannya dalam mengevaluasi masih ada atau tidaknya infeksi pada ulkus kaki diabetik setelah pengobatan dengan membuat kurva ROC dan menghitung AUC. Lalu ditentukan titik potong dengan sensitivitas dan spesifisitas terbaik pada penelitian ini yang dibandingkan dengan baku emas berupa pemeriksaan bakteri secara kuantitatif dari kultur jaringan ulkus.Hasil. Dari 47 subjek yang diteliti, terdapat 41 subjek dengan ulkus kaki diabetik yang masih terinfeksi berdasarkan pemeriksaan bakteri secara kuantitatif dari kultur jaringan ulkus. Penanda klinis infeksi menurut IDSA-IWGDF yang dimodifikasi memilki kemampuan prediksi yang baik dalam menentukan masih ada atau tidaknya infeksi pada ulkus kaki diabetik setelah pengobatan dengan AUC: 0,744 (IK 95% 0,576-0,912) dengan titik potong bila ditemukan ≥2 tanda klinis infeksi (Sn: 41,46%; Sp: 100%; NPP: 100%, NPN: 20%). Sedangkan, untuk prokalsitonin didapatkan AUC: 0,642 (IK 95% 0,404-0,880).Simpulan. Kriteria klinis infeksi menurut IDSA-IWGDF yang dimodifikasi memiliki kemampuan yang baik untuk menentukan masih ada atau tidaknya infeksi pada ulkus kaki diabetik setelah pengobatan. Belum didapatkan manfaat prokalsitonin dalam mengevaluasi masih ada atau tidaknya infeksi pada ulkus kaki diabetik setelah pengobatan.Kata Kunci: IDSA-IWGDF, Infeksi, Kriteria klinis, Modifikasi, Prokalsitonin, Ulkus kaki diabeticThe Role of Clinical Sign and The Added Value of Procalcitonin in Determining The Existance of Infection in The Treated Diabetic Foot UlcerIntroduction. Roles of the IDSA-IWGDF clinical sign in determining the existence of infection in the treated diabetic foot ulcer is unknown, and it has to be modified. Procalcitonin, a marker that specific for bacterial infection, have benefit in diagnosing infection in the diabetic foot ulcer, but its roles and added value to the clinical sign of infection in determining the existence of infection in the treated diabetic foot ulcer is also unknown. This study aims to determine the ability of modified IDSA-IWGDF clinical sign of infection and procalcitonin in determining the existence of infection in the treated diabetic foot ulcer. Methods. Cross-sectional study based on diagnostic research was done in the diabetic patient with infected foot ulcer that had been treated and hospitalized in RSCM between October 2011-April 2012. The modified IDSA-IWGDF clinical sign of infection (pain, erythema, edema, warm sensation) was applied to the patient, and blood serum was taken for procalcitonin. The predictive value of this two marker was then assigned using ROC. AUC and cut off point with the best sensitivity and specificity was determined compared to the gold standard. Results. Among total of 47 subjects enrolled for the trial, 41 subjects with sustained infection of the diabetic foot ulcer were diagnosed based on quantitative measurement of bacteria (bacterial load) from the ulcer tissue (gold standard). Modified IDSA-IWGDF clinical sign of infection has good prediction of infection for treated diabetic foot ulcer, AUC: 0,744 (95% CI 0,576-0,912) with cut off point ≥ 2 clinical sign of infection (Sn: 41,46%; Sp: 100%; PPV: 100%, NPV: 20%). AUC: 0,642 (95% CI 0,404-0,880) was determined for procalcitonin. Conclusions. Modified IDSA-IWGDF clinical sign of infection has good ability in determining the existence of infection in the treated diabetic foot ulcer. Procalcitonin has no benefit yet in determining the existence of infection in the treated diabetic foot ulcer.
Cite
CITATION STYLE
Aswar, A., Yunir, E., Karuniawati, A., & Harimurti, K. (2018). Peranan Penanda Klinis dan Nilai Tambah Prokalsitonin dalam Penentuan Masih Adanya Infeksi pada Ulkus Kaki Diabetik setelah Pengobatan. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 5(2), 54. https://doi.org/10.7454/jpdi.v5i2.184
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.