Abstract
Keterpengaruhan Indonesia terhadap budaya asing telah memberikan dampak salah satunya pada segi penampilan atau fashion. Banyak sekali pemuda-pemudi saat ini yang terpengaruh dengan gaya berpakaian yang tidak sesuai atau bahkan terkesan mereka berhias secara berlebih-lebihan. Dalam Islam sendiri, berhias bukanlah hal yang dilarang selama tidak dilakukan secara berlebih-lebihan atau yang umumnya dikenal dengan istilah At-Tabarruj. At-Tabarruj merupakan salah satu hal yang dilarang oleh Allah terhadap wanita muslimah. Para mufassir mengatakan bahwa perilaku tabarruj membawa kemudharatan termasuk dapat membangkitkan syahwat bagi laki-laki. Melalui penafsiran tersebut memposisikan perempuan sebagai fitnah bagi laki-laki. Padahal, bagaimana yang terlihat dan sudah terjadi laki-laki pun memiliki potensi yang sama dan dapat menjadi fitnah bagi perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang bertujuan untuk menafsirkan makna At-Tabarruj dalam perspektif Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa dalam Qira’ah Mubadalah, At-Tabarruj juga dapat dimaknai dengan perilaku laki-laki yang memamerkan keindahan tubuhnya sehingga dapat membangkitkan syahwat perempuan dan laki-laki yang ber-tabarruj juga akan mendapatkan ganjaran dengan dosa karena melakukan hal yang dilarang oleh Allah. Mengenai ganjaran dosa itu sendiri juga tidak memandang ia perempuan maupun laki-laki karena jika ia melakukan hal yang dilarang Allah maka akan mendapatkan balasannya tanpa Allah memandang jenis kelamin.Indonesia's influence on foreign culture has had an impact, one of which is in terms of appearance or fashion. Lots of young people today are affected by inappropriate dress styles or even the impression that they are excessively ornate. In Islam, ornate is not something that is prohibited as long as it is not done excessively or what is commonly known as At-Tabarruj. At-Tabarruj is one of the things that is forbidden by Allah for Muslim women. Mufassir say that tabarruj behavior brings harm, including being able to arouse lust for men. Through this search, women are positioned as slander for men. In fact, what is seen and has happened, men also have the same potential and can become slander for women. This research is a library research that aims to interpret the meaning of At-Tabarruj in the perspective of Faqihuddin Abdul Kodir's Qira'ah Mubadalah. The results of this study explain that in Qira'ah Mubadalahh, At-Tabarruj can also be interpreted as the behavior of men who show off the beauty of their bodies so that they can arouse the lust of women and men who have tabarruj will also get rewarded with sins for doing things that prohibited by Allah. Regarding the reward for sin itself, it does not look at women or men because if he does something that is forbidden by God, he will get a reward regardless of gender.
Cite
CITATION STYLE
M. Aufa. (2024). At-Tabarruj dalam Perspektif Qir?’ah Mub?dalah Faqihuddin Abdul Kodir. Al-Kauniyah, 5(2), 1–15. https://doi.org/10.56874/alkauniyah.v5i2.1880
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.