Abstract
Case findings, target achievement, and success rates are the focus of the TB program. TB data recording must be accurate. GIS utilization plays a role in visualizing TB case maps. The sociocognitive model of TB prevention culture on social factors includes media literacy, health literacy, health beliefs and self-efficacy to improve quality of life. Data were obtained from P2PL officers in Sleman Regency and 7 community health center programmers who hold TB disease reporting. The map shows location of distribution of TB cases, areas with most TB cases are in Depok Sub-district (223) (15.06%), Gamping Sub-district (136) (9.18%), and Mlati Sub-district (133) (8.98%). Efforts to reduce number of TB cases are carried out through socialization, technical guidance, data validation, active case finding by visiting area and conducting screening using x-rays. There are innovations in Active Case Finding (ACF) TB services using jemput bola method. SIKAT TB Program (Sleman Sigap Kendali dan Tasi Tuberkulosis), Zero TB Program is a mobile screening program, and development of SmartHealth Sleman application based on Artificial Intelligence (AI) have been carried out. TB programmers can improve TB discovery, monitoring, education, and information dissemination through digital health literacy innovations, while also ensuring completeness and accuracy of data entry in TB Information System (SITB). The public needs to increase their knowledge and practice healthy lifestyles through media literacy, health literacy, confidence and concern for healthy living, and self-efficacyTemuan kasus, capaian target, dan tingkat keberhasilan menjadi fokus program TB. Pencatatan data TB harus akurat. Pemanfaatan SIG memiliki peran untuk memvisualisasikan peta kasus TB. Model sosiokognitif budaya pencegahan TB pada faktor sosial meliputi literasi media, literasi kesehatan, keyakinan kesehatan dan efikasi diri untuk menuju peningkatan kualitas hidup. Data diperoleh dari petugas P2PL wilayah Kabupaten Sleman dan 7 petugas programmer puskesmas pemegang pelaporan penyakit TB. Pada peta menunjukkan titik lokasi persebaran kasus TB, wilayah kasus TB terbanyak berada di Kapanewon Depok 223 (15,06%), Kapanewon Gamping 136 (9,18%), Kapanewon Mlati 133 (8,98%). Upaya menekan angka kasus TB dilakukan melalui sosialisasi, bimbingan teknis, validasi data, penemuan kasus aktif dengan datang ke wilayah dan melakukan skrining menggunakan rontgen. Terdapat inovasi pelayanan Active Case Finding (ACF) TB dengan metode jemput bola. Program SIKAT TB (Sleman Sigap Kendali dan Atasi Tuberkulosis), Program Zero TB merupakan program mobile screening, dan pengembangan aplikasi SmartHealth Sleman berbasis Artificial Intelligence (AI) telah dilakukan. Programmer TB dapat meningkatkan penemuan, pemantauan, penyuluhan dan sosialisasi informasi TB melalui inovasi literasi kesehatan digital, serta memperhatikan kelengkapan dan keakuratan pengisian data pada SITB. Masyarakat perlu meningkatkan pengetahuan dan menerapkan pola hidup sehat melalui media literasi, literasi kesehatan, yakin dan peduli hidup sehat, serta efikasi diri.
Cite
CITATION STYLE
Rohman, H., Rapikha Anggraini, N., & Mawardi, I. (2025). Pencatatan dan Pemetaan Persebaran Pasien Tuberkulosis Serta Faktor Sosial di Kapanewon Depok, Gamping dan Mlati. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Setya Medika, 10(2). https://doi.org/10.56727/bsm.v10i2.155
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.