Abstract
Sama halnya dengan Virus Dengue dan Virus Chikungunya, Virus Zika juga ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Karena populasi nyamuk Aedes aegypti sangat tinggi di Bali serta wilayah lain di Indonesia, maka penularan Virus Zika di Bali/Indonesia bisa dipastikan juga akan terjadi sama halnya dengan negara lain seperti Vietnam, Thailand dan Singapura. Karena itu, melakukan pencegahan penularan dari luar negeri ke Bali/Indonesia dengan memantau suhu tubuh di bandara pada orang-orang yang datang dari luar negeri tidak cukup untuk mencegah penularan karena sebagian besar orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala (tidak demam), tetapi bisa menularkan virus di Bali/Indonesia. Untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penularan di Bali/Indonesia, maka satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah pemantauan atau surveilans. Surveilans bisa dilakukan secara paralel dengan surveilans Demam Berdarah Dengue yang telah dilaksanakan selama ini. Untuk menetapkan terjadinya infeksi Virus Zika, diperlukan pemeriksaan laboratorium. Upaya lainnya adalah meningkatkan awareness kepada masyarakat dan petugas kesehatan terhadap adanya kemungkinan penularan Virus Zika di Bali/Indonesia. Kepada petugas kesehatan perlu diberikan pemahaman bahwa bila dijumpai adanya infeksi Virus Zika maka diperlukan konseling yang memadai kepada pasien untuk tidak melakukan hubungan seks atau memakai kondom dengan istri/suaminya atau pasangan seksualnya selama 60 hari guna mencegah terjadinya penularan melalui seksual. Sama halnya dengan pencegahan penularan infeksi Virus Dengue, pemantauan jentik nyamuk Aedes aegypti dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) amat perlu ditingkatkan.
Cite
CITATION STYLE
Wirawan, D. N. (2016). Pemantauan dan Pencegahan Penularan Virus Zika di Indonesia. Public Health and Preventive Medicine Archive, 4(1), 1–2. https://doi.org/10.15562/phpma.v4i1.48
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.