Abstract
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2022), prevalensi KEK pada ibu hamil di Jawa Tengah mencapai 14,5%, dengan beberapa kabupaten/kota menunjukkan angka di atas rata-rata provinsi. Kabupaten Klaten termasuk wilayah dengan kasus KEK yang cukup signifikan, dengan prevalensi sekitar 15,8% (Dinkes Klaten, 2022). Adapun faktor risiko terjadinya KEK pada Ibu Hamil adalah faktor ekonomi (Kemiskinan menghambat akses terhadap makanan bergizi), Pengetahuan Gizi Rendah (Kurangnya pemahaman tentang kebutuhan gizi selama kehamilan),Akses Kesehatan Terbatas (jarak ke fasilitas kesehatan atau kurangnya tenaga kesehatan), Pola makan tidak seimbang (konsumsi rendah protein, zat besi dan kalori), Kondisi kesehatan kronis (Infeksi parasit, anemia atau penyakit penyerta lain), dan kehamilan remaja (Ibu usia muda < 20 tahun cenderung belum siap secara biologis dan gizi. Rendahnya Kesadaran Masyarakat Banyak ibu hamil dan Pasangan Usia Subur (PUS) belum memahami pentingnya pemeriksaan LILA dan gizi seimbang, dampak Jangka Panjang KEK berkontribusi pada stunting dan kematian maternal/perinatal, Intervensi Preventif: Penyuluhan bertujuan meningkatkan deteksi dini melalui pengukuran LILA dan konseling gizi, Dukungan Program Pemerintah Sejalan dengan intervensi Program Indonesia Sehat dan Penurunan Stunting di tingkat desa. Adapun Target Penyuluhannya adalah Ibu hamil dan PUS di wilayah Manisrenggo, Kader posyandu dan keluarga untuk pendampingan berkelanjutan. Materi Penyuluhan yang disampaikan tentang KEK, pentingnya gizi selama kehamilan, cara mengukur LILA mandiri, pemanfaatan makanan lokal bergizi (contoh: tempe, kacang-kacangan, sayur hijau). Pendidikan kesehatan efektif untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang KEK.Based on data from the Central Java Provincial Health Office (2022), the prevalence of KEK among pregnant women in Central Java reached 14.5%, with several districts/cities showing rates above the provincial average. Klaten District is among the areas with significant cases of KEK, with a prevalence of around 15.8% (Klaten Health Office, 2022). The risk factors for the occurrence of KEK in pregnant women are economic factors (Poverty inhibits access to nutritious food), Low Nutrition Knowledge (Lack of understanding of nutritional needs during pregnancy), Limited Health Access (distance to health facilities or lack of health workers), Unbalanced diet (low consumption of protein, iron and calories), Chronic health conditions (Parasitic infections, anemia or other comorbidities), and teenage pregnancy (Young mothers < 20 years old tend to be biologically and nutritionally unprepared). Low Public Awareness Many pregnant women and couples of childbearing age (PUS) do not understand the importance of LILA examination and balanced nutrition, the long-term impact of KEK contributes to stunting and maternal / perinatal mortality, Preventive Interventions: Counseling aims to improve early detection through LILA measurement and nutrition counseling, Government Program Support In line with the Healthy Indonesia Program and Stunting Reduction interventions at the village level. The targets of the counseling were pregnant women and PUS in Manisrenggo area, posyandu cadres and families for continuous assistance. Counseling materials presented about KEK, the importance of nutrition during pregnancy, how to measure LILA independently, utilization of nutritious local foods (for example: tempeh, beans, green vegetables). Health education is effective to improve pregnant women's knowledge about KEK
Cite
CITATION STYLE
Bima Suryantara, Yunri Merida, Sandy Wigya, Wahyuningsih, Nursifa, Ratna Nurindah Sari, … Susan Susanti. (2025). Cegah KEK Sejak Hamil, Kurangi Resiko Stunting pada Bayi. Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan, 4(1), 100–105. https://doi.org/10.36049/genitri.v4i1.350
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.