Manajemen Transfusi Perioperatif Pada Pasien Bedah Jantung Dewasa dengan Mesin Pintas Jantung Paru

  • Widyapuspita O
  • Boom C
N/ACitations
Citations of this article
78Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Transfusi darah umum dilakukan pada pasien bedah jantung, mencakup 10-20% dari total transfusi darah yang diberikan. Diperkirakan 60-70% pemberian transfusi terjadi selama periode perioperatif. Pemintasan jantung paru menggunakan mesin pintas jantung paru/ cardiopulmonary bypass (CPB) machine merupakan teknik penting yang telah digunakan selama lebih dari 60 tahun. Mesin ini membantu dokter bedah jantung mendapatkan area kerja yang tidak bergerak dan bersih. Dalam konteks koagulasi, pemakaian mesin CPB akan mengakibatkan timbulnya anemia hemodilusi akibat priming, sehingga seringkali memerlukan transfusi darah.Beberapa penelitian menunjukkan keterkaitan antara transfusi alogenik terkait dengan peningkatan morbiditas seperti infeksi, cidera ginjal akut, reaksi hemolitik akut, reaksi alergi, cidera paru, kelebihan cairan, dan peningkatan mortalitas.Pemberian transfusi alogenik dapat dikurangi dengan protokol transfusi restriktif, penggunaan metode autotransfusi, pemberian eritropoetin (EPO), antiplatelet, dan antifibrinolitik. Manajemen transfusi yang tepat dan rasional selama periode perioperatif bedah jantung dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas secara signifikan.

Cite

CITATION STYLE

APA

Widyapuspita, O., & Boom, C. E. (2016). Manajemen Transfusi Perioperatif Pada Pasien Bedah Jantung Dewasa dengan Mesin Pintas Jantung Paru. JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia), 8(3), 188. https://doi.org/10.14710/jai.v8i3.19817

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free