MENUJU DAMAI DENGAN KEARIFAN BARU (Studi Kasus Pasca Konflik Di Aralle, Tabulahan dan Mambi)

  • Arraiyah H
N/ACitations
Citations of this article
9Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Faktor sejarah dan agama menjadi faktor utama terciptanya konflik yang berkepanjangan di Mamasa. Pemicu konfliknya adalah pemekaran Kabupaten Mamasa. Bagi sebagian besar masyarakat Mandar yang tergabung dalam Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'bana Binanga merasa berkeberatan dengan dipilihnya Mamasa sebagai ibu kota kabupaten dan nama kabupaten. Ini karena secara histori dan agama, masyarakat Mandar yang tergabung dalam ikatan komunal tujuh kerajaan yang secara kebetulan mayoritas beragama Islam, merasa lebih terhormat kedudukannya dibanding Mamasa yang kebetulan mayoritas beragama Kristen. Penelitian ini mencatat beberapa upaya-upaya pemerintah daerah dalam usaha menangani persoalan konflik, setidaknya ada sembilan kebijakan yang menjadi kerangka dasar untuk menanggulangi persoalan konflik di Mamasa khususnya di areal ATM (Aralle, Tabulahan dan Mambi). Namun hal ini tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi. Karena itu kedua peneliti merekomendasikan perlunya persfektif baru dalam melihat konflik di Mamasa, khususnya dengan mempertimbangkan pendekatan kultural.

Cite

CITATION STYLE

APA

Arraiyah, H. (2018). MENUJU DAMAI DENGAN KEARIFAN BARU (Studi Kasus Pasca Konflik Di Aralle, Tabulahan dan Mambi). Al-Qalam, 11(2), 26. https://doi.org/10.31969/alq.v11i2.588

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free