MENYUSURI JEJAK SYAIR DI BARUS: KAJIAN ANTROPOLOGIS

  • Nurelide N
N/ACitations
Citations of this article
18Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengungkap keberadaan syair Hamzah Fansuri, yang namanya menggegerkan dunia Islam melalui syair-syair sufistiknya.  Kapur barus  tidak dapat dipisahkan dari kota kecil di Pantai Barat Pulau Sumatera yang menjadi tempat asalnya, yaitu Barus yang memiliki nama lain Fansur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, karena tujuannya mengungkap keberadaan syair Hamzah Fansuri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa syair Hamzah Fansuri pernah berkembang sekitar abad ke-XVI hingga ke-XVII, hampir sama terkenalnya dengan kisah kapur barus. Syair hamzah Fansuri sarat dengan ajaran lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik namun, keberlangsungan ajarannya sulit untuk meyakinkan orang. masyarakat Tapanuli Tengah yang mempunyai karakter sangat terbuka dengan pendatang. Sehingga banyak penduduknya dari luar, menyebabkan akutulrasi budaya hingga muncul syair baru yang berkembang hingga sekarang yaitu syair sikambang. Bergeser sedikit ke arah Barat kecamatan Manduamas berbatasan langsung dengan Kabupaten Pakpak Bharat ditemukan juga syair (odong-odong) yang dilantunkan oleh laki-laki yang sedang berada di tengah hutan.

Cite

CITATION STYLE

APA

Nurelide, N. (2020). MENYUSURI JEJAK SYAIR DI BARUS: KAJIAN ANTROPOLOGIS. MEDAN MAKNA: Jurnal Ilmu Kebahasaan Dan Kesastraan, 18(2), 235. https://doi.org/10.26499/mm.v18i2.2892

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free