Abstract
Artikel ini menelaah keberadaan bangsal khusus perempuan dan perlakukan kekuasaan kolonial Belanda terhadap perempuan-perempuan dalam penjara-penjara kolonial yang ada di Sumatra Barat (Sumatra’s Westkust). Artikel ini merupakan karya historiografi yang penyusunannya menggunakan metode penyusunan yang dikenal pada umumnya dalam metode penyusunan sejarah modern: heuristik, kritik intern-ekstern; klasifikasi-interpretasi; dan ekplanasi dalam bentuk historiografi. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan sejarah perempuan yang menelaah posisi perempuan di bawah kekuasaan patriarkis-kolonial. Dari artikel ini dapatkan: 1). Penjara-penjara kolonial telah hadir di Sumatra Barat sejak abad ke-17, bermula di Padang dan jejaring itu semakin melebar ke dataran tinggi Minangkabau seiring menguatnya kekuasaan politik kolonial di abad-abad setelah itu; 2) Namun tidak satu pun penjara-penjara koloial yang ada di Sumatra Barat itu menyediakan bangsal khusus bagi perempuan, selain hanya ada kamar titipan di antara sel-sel laki-laki sebelum si terhukum-perempuan dikirim ke penjara khusus perempuan di Jawa; semua petugas dari lapisah paling bawah hingga yang teratas juga adalah laki-laki; 3) Ketiadaan bangsal khusus perempuan dan petugas perempuan telah memberi hukuman yang berlipat ganda bagi seorang tahanan perempuan, terutama tahanan perempuan Minangkabau yang biasa menjunjung adat dan nilai moral: hukuman badan karena terkurung terali dan tembok & hukuman psikologis sekaligus karena harus berhadapan dengan petugas-petugas yang semuanya laki-laki.
Cite
CITATION STYLE
Arsa, D., & Hakim, L. (2019). Tangsi-Tangsi Kolonial dan Tahanan Perempuan di Sumatera Barat. Kafa`ah: Journal of Gender Studies, 9(2), 191. https://doi.org/10.15548/jk.v9i2.287
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.