Abstract
ABSTRAK Areal pertanaman kapas di Indonesia tersebar di enam propinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Pengembangan kapas 70% berada di lahan tadah hujan dan 30% di lahan sawah sesudah tanaman padi. Di lahan tadah hujan biasanya kapas ditanam setelah jagung, kedelai atau kacang hijau dan selalu mengalami kendala kekurangan air selama pertumbuhannya. Karena kendala tersebut, produksi kapas berbiji ditingkat petani umumnya hanya mencapai 200 – 500 kg per hektar. Penelitian uji multilokasi dilaksanakan di Asembagus dan Wongsorejo (Jawa Timur), Bayan (Nusa Tenggara Barat), dan Bantaeng serta Bulukumba (Sulawesi Selatan), di lahan tadah hujan pada tahun 2004 – 2006. Sebanyak 9 galur dan varietas Kanesia 8 disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang 4 kali (tiga ulangan tidak mendapatkan tambahan pengairan setelah tanaman berumur 42 hari atau setelah pemupukan kedua), satu ulangan diberi pengairan optimal sampai panen, yang digunakan untuk menghitung Indeks Kepekaan Terhadap Kekeringan. Kapas ditanam secara monokultur pada petak percobaan berukuran 50m 2 dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm, satu tanaman per lubang. Pengamatan yang dilakukan adalah : hasil kapas berbiji pada kondisi keterbatasan air, hasil kapas berbiji pada kondisi pengairan optimal, indeks kerentanan terhadap kekeringan, skor kerusakan daun akibat serangan Amrasca biguttula, dan mutu serat. Pada kondisi tidak mendapatkan tambahan pengairan, rata-rata potensi hasil galur-galur yang diuji tidak berbeda nyata dengan varietas Kanesia 8 serta toleran terhadap A biguttula dan mutu seratnya memenuhi syarat untuk industri tekstil di Indonesia. Galur-galur yang produktivitasnya mencapai lebih dari 1.500 kg kapas berbiji/ha adalah (135x182)(351x268)9, (135x182)(351x268)10, dan (135x182)10. Dilihat dari produktivitas, keta- hanan terhadap A. biguttula, ketahanan terhadap kekeringan dan mutu serat, terdapat dua galur harapan yang dapat dilepas sebagai varietas baru yang sesuai untuk dikembangkan di lahan tadah hujan pada kondisi keter- batasan air yaitu galur {(135x182)(351x268)}9 dan galur (339x448)2. Keunggulan galur {(135x182)(351x268)}9 adalah lebih toleran terhadap kondisi dengan ketersediaan air terbatas dibandingkan dengan Kanesia 8, sedangkan produktivitas, ketahanannya terhadap A biguttula, serta mutu seratnya tidak berbeda. Keunggulan galur (339x448)2 dibandingkan dengan Kanesia 8 adalah mutu seratnya lebih tinggi, sedangkan produk- tivitas serta ketahanannya terhadap keterbatasan air dan A. biguttula tidak berbeda. Kata kunci : Kapas, produktivitas, mutu serat, tahan terhadap kekeringan ABSTRACT New cotton lines adaptive to rain-fed Cotton growing area in Indonesia extended in six provinces i.e. East Java, Middle Java, Bali, West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara and South Sulawesi. Cotton area in Indonesia is mostly (70%) in rain- fed, and the rest is on rice-field after paddy (30%). On rain-fed areas, cotton is commonly grown after maize, soybean, or greenbean, that it suffers from drought. This condition has resulted low yield ranging 200 – 500 kg seed cotton per hectare. As a result, farmers income and farmers interest in cotton cultivation are low . Multilocations trial were conducted in Asembagus and Wongsorejo (East Java), Bayan (West Nusa Tenggara), and Bantaeng as well as Bulukumba (South Sulawesi), on rain-fed area in 2004 to 2006. 9 lines of cotton and Kanesia 8 were arranged in randomized block design with four replications three replications without irrigation 42 days after planting and one replication with optimal irrigation for the estimation of drought susceptibility index. Monoculture cotton was grown in plots sized 50 m 2 with 100 cm x 25 cm plant spacing, one plant per hole. Parameters observed were seed cotton yield on water limited condition, seed cotton yield on full irrigation, drought susceptibility index, score of leaf damage caused by Amrasca biguttula, and fibre quality. Means of productivity level of the cotton lines on water limited condition were not significantly different to Kanesia 8, all of them were tolerant to A biguttula with fiber quality was suitable for textile industries in Indonesia. There were three lines reached productivity more than 1,500 kg/ha i.e. (135x182)(351x268)9, (135x182) (351x268)10, and (135x 182)10. From the trials, there were two promising lines i.e. lines (135x182) (351x268) 9 and (339x448) 2 which can be released as new varieties tolerant to water limited condition. Lines (135x182)(351x268) 9 was more tolerant to water limited condition than Kanesia 8, and it was not significantly different in productivity, tolerancy to A biguttula, and fibre quality. Lines (339x448)2 was superior on its fiber quality than Kanesia 8 and its productivity as well as its tolerancy to water limited condition and A biguttula were not significantly different.
Cite
CITATION STYLE
SUMARTINI, S., ABDURRAKHMAN, A., & SULISTYOWATI, E. (2020). GALUR-GALUR HARAPAN KAPAS DI LAHAN TADAH HUJAN. Jurnal Penelitian Tanaman Industri, 14(3), 87. https://doi.org/10.21082/jlittri.v14n3.2008.87-94
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.