Abstract
Perubahan fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian semakin meningkat, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Lahan hutan tetap dapat dimanfaatkan secara optimal dengan menerapkan sistem agroforestri. Tajuk sengon yang ringan dapat dikombinasikan dengan tanaman pangan fungsional, diantaranya garut yang memiliki kemampuan beradaptasi tumbuh di bawah naungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pertumbuhan tanaman garut pada sistem agroforestri dan monokultur, dan menganalisis pengaruh perlakuan dosis pupuk organik hayati (POH) yang diberikan terhadap produksi umbi garut. Rancangan percobaan yang digunakan berupa rancangan petak terbagi dengan rancangan lingkungan acak lengkap. Sistem tanam yang terdiri atas dua taraf merupakan petak utama dan dosis pupuk yang terdiri atas tiga taraf merupakan anak petak dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem monokultur menghasilkan berat segar rata-rata umbi garut sebesar 193,0 g per rumpun, dengan produksi umbi sebesar 7,73 ton/ha, sedangkan pada sistem agroforestri 163,9 g/rumpun dengan produksi umbi 6,02 ton/ha, dengan nilai kesetaraan lahan sebesar 1,72.
Cite
CITATION STYLE
Putri Maulidya, A., Wijayanto, N., & Octavia, D. (2023). Respon Garut (Maranta arundinacea) terhadap Berbagai Dosis Pupuk Organik Hayati dan Naungan Sengon dalam Agroforestri. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 20(2), 105–114. https://doi.org/10.59465/jpht.v20i2.145
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.