Abstract
Paleobatimetri diketahui sebagai ilmu yang dapat memberikan informasi tentang lingkungan pengendapan batuan sedimen pada masa lampau dengan menggunakan fosil (kandungan biota) sebagai salah satu indikator lingkungan pengendapan. Fosil Foraminifera bentonik menjadi indikator yang baik dalam menentukan umur relatif batuan serta lingkungan purba, karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan, khusunya kondisi air laut. Daerah Ako kabupaten Pasangkayu banyak dijumpai satuan batupasir dengan kandungan fosil foraminifera yang melimpah. Pengambilan data menggunakan metode Measuring Section dengan litologi berupa perselingan antara batupasir, batulempung dan batulanau. lingkungan pengendapan daerah Ako berdasarkan kelimpahan fosil foraminifera bentonik, yaitu Lenticulina orbicularis (D’ORBIGNY), Cibicidoides incrassatus (FICHTEL dan MOLL), Cibicidoides subhaidingerii (PARR) dan Quinqueloculina lamarckiana (D’ORBIGNY), berada pada Neritik Tengah dengan kedalaman 30-90 meter, pada umur relatif N.17-N.18 ( Miosen Atas bagian Atas – Pliosen Bawah bagian Bawah.
Cite
CITATION STYLE
Fitriana, T., Aznal, M., Supardi, N., & Janat, N. R. (2023). Paleobatimetri Satuan Batupasir Formasi Pasangkayu Berdasarkan Kandungan Foraminifera Bentonik Daerah Ako Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat. Jurnal GEOMining, 4(2), 32–39. https://doi.org/10.33387/geomining.v4i2.6874
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.