Abstract
Orang Banyumas, yang populer disebut wong Banyumasan, dikenal luas sebagai sosok yang unik dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat Jawa lainnya. Perbedaan khusus terletak pada logat yang mereka gunakan yaitu bahasa ngapak. Disebut ngapak karena pengucapannya vokal “a” dan “o” serta konsonan b, d, k, g, h, y, k, l dan w yang tetap dan tidak mengambang atau setengah-setengah, seperti yang biasa ditemui pada bahasa Jawa baku. Wong Banyumasan yang terdiri dari Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen menjadikan dialek ngapak sebagai identitas budaya mereka. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dengan mencari database dari berbagai referensi, seperti jurnal penelitian, review jurnal, dan data-data yang berkaitan dengan budaya banyumasan terkhususnya bahasa ngapak. Analisis data untuk penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialek ngapak merupakan pengembangan pemikiran atau persepsi dalam kaitannya dengan pola yang ada pada dialek ngapak itu sendiri. Pandangan masyarakat budaya Banyumasan terhadap dialek ngapak yaitu merupakan identitas budaya Banyumasan yang unik, keren dan kaya, serta berpotensi jika dikembangkan. Penggunaan dialek ngapak dalam kehidupan sehari-hari wong Banyumasan masih tetap menunjukkan konsistensi mereka untuk tidak menyerah dan tetap melestarikan identitas budayanya. Kata kunci: budaya Banyumasan; dialek ngapak; identitas budaya
Cite
CITATION STYLE
Isrofiah Laela Khasanah, & Heri Kurnia. (2023). MELESTARIKAN BUDAYA BANYUMASAN MELALUI DIALEK BAHASA NGAPAK. KULTURISTIK: Jurnal Bahasa Dan Budaya, 7(2), 43–53. https://doi.org/10.22225/kulturistik.7.2.7135
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.