Abstract
Kerusakan motor induksi sering terjadi di lingkukan industri. Starting motor yang tidak sesuai dengan kebutuhan motor adalah salah satu penyebab kegagalan yang terjadi. Pada penlitian ini digunakan dua metode starting, yaitu autotrafo dan soft starter. Kedua metode ini dilakukan pengujian dalam bentuk simulasi dan perhitungan dengan tujuan untuk melihat perbandingan perubahan variabel motor pada saat starting. Pada metode starting autotrafo, perpindahan tegangan dilakukan sekali saat motor hendak mencapai kecepatan nominal yang menyebabkan arus mengalami overshoot. Sedangkan pada metode starting soft starter, perpindahan tegangan dilakukan secara bertahap sehingga lonjakan arus tidak langsung mengalami overshoot. Hasil dari penelitian ini menunjukkan arus starting pada soft starter mencapai 2,8 kali arus nominal, sedangkan pada autotrafo mencapai 3,2 kali arus nominal. Torsi starting soft starter sebesar 1,17 kali torsi nominal, sementara torsi starting autotrafo mencapai 1,5 kali torsi nominal. Meskipun soft starter memiliki arus dan torsi awal yang lebih rendah, soft starter dapat mencapai keadaan stabil lebih cepat, sehingga menggunakan energi lebih sedikit saat starting. Hasil uji validasi arus terhadap RPM metode starting autotrafo, menunjukkan kurva arus dimulai dengan tegangan rendah dan beralih ke tegangan nominal saat mendekati kecepatan nominal. Kurva tersebut sesuai dengan hasil yang diperoleh Bambang Prio Hartono serta pernyataan pada buku Stephen J. Chapman. Pada metode starting soft starter, kurva arus meningkat perlahan di awal dan turun perlahan setelah mencapai puncak. Kurva ini sesuai dengan hasil penelitian Muhammad Adam dan buku Soft Starter Handbook dari ABB. Berdasarkan pernyataan diatas, maka penelitian yang dilakukan saat ini dapat dinyatakan valid.Kerusakan motor induksi sering terjadi di lingkukan industri. Starting motor yang tidak sesuai dengan kebutuhan motor adalah salah satu penyebab kegagalan/gangguan yang terjadi. Dalam artikel ini digunakan dua metode starting, yaitu autotrafo dan soft starter. Kedua metode ini dilakukan pengujian dalam bentuk simulasi dan perhitungan dengan tujuan untuk melihat perbandingan perubahan variabel motor pada saat starting. Pada metode starting autotrafo, perpindahan tegangan dilakukan sekali saat motor hendak mencapai kecepatan nominal yang menyebabkan arus mengalami overshoot. Sedangkan pada metode starting soft starter, perpindahan tegangan dilakukan secara bertahap sehingga lonjakan arus tidak langsung mengalami overshoot. Hasil dari penelitian ini menunjukkan arus starting pada soft starter mencapai 2,8 kali arus nominal, sedangkan pada autotrafo mencapai 3,2 kali arus nominal. Torsi starting soft starter sebesar 1,17 kali torsi nominal, sementara torsi starting autotrafo mencapai 1,5 kali torsi nominal. Meskipun soft starter memiliki arus dan torsi awal yang lebih rendah, soft starter dapat mencapai keadaan stabil lebih cepat, sehingga menggunakan energi lebih sedikit saat starting. Hasil uji validasi arus terhadap RPM metode starting autotrafo, menunjukkan kurva arus dimulai dengan tegangan rendah dan beralih ke tegangan nominal saat mendekati kecepatan nominal yang relevan dengan penelitian terdahulu. Pada metode starting soft starter, kurva arus meningkat perlahan di awal dan turun perlahan setelah mencapai puncak
Cite
CITATION STYLE
Rajagukguk, A., Althaf Iskandar, & Munte, A. R. (2025). Indonesia Perubahan Parameter Motor 140-PM-17 Menggunakan Strating Autotrafo Dan Soft Starter Pada PT Kilang Pertamina Internasional RU II Dumai. Electrical Today, 1(01), 11–22. https://doi.org/10.65794/j.electo.1.01.11-22
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.