Abstract
Pendahuluan: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Pada saat anak melewati usia dua tahun, maka sudah terlambat untuk memperbaiki kerusakan pada tahun-tahun awal kehidupan. BBLR (berat badan lahir rendah) merupakan salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian di berbagai negara karena dapat mempengarhui pertumbuhan janin. Berdasarkan Penelitian prevalensi kejadian BBLR di Provinsi Banten menempati peringkat ke 9 Nasional dengan prevalensi diatas nasional (> 6,2%). Prevalensi kejadian BBLR pada desa Koncang, Keroncong, dan Kadugadung sebesar 8,70%, 14,29%, dan 7,46%. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan metode penelitian berupa survey dan pengambilan sampel secara total sampling. Uji hipotesis penelitian ini menggunakan uji ChiSquare. Hasil: Hasil analisis statistik nilai P value <0,05 yaitu nilai P 0,011 pada baduta dan nilai P 0,011 yang menunjukkan ada hubungan BBLR dengan kejadian Stunting pada baduta. Kesimpulan: Hasil analisis bivariat menunjukan ada hubungan yang signifikan atau bermakna antara BBLR dengan kejadian Stunting pada baduta dan balita di Desa Kerocong, Kecamatan Keroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Cite
CITATION STYLE
Ayuningtyas, A., Annisha, C., Insani, M., Yuansafikri, R., Fadhilla, S. N., & Trisiswati, M. (2022). HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BADUTA DI DESA KONCANG, KORONCONG, DAN KADUGADUNG, KECAMATAN CIPEUCANG, KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN, INDONESIA. Jurnal Kedokteran YARSI, 28(3), 064–079. https://doi.org/10.33476/jky.v28i3.1233
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.