Abstract
Melasma merupakan kelainan pigmentasi kulit yang ditandai dengan hiperpigmentasi berwarna coklat hingga coklat keabu-abuan, terutama pada area wajah yang sering terpapar sinar matahari. Etiologi melasma bersifat multifaktorial, dengan faktor hormonal memegang peranan penting, terutama pada wanita. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal diketahui dapat mempengaruhi kadar hormon estrogen dan progesteron, yang berperan dalam proses melanogenesis. Namun, data terkait hubungan antara durasi penggunaan alat kontrasepsi hormonal dan derajat keparahan melasma masih terbatas, khususnya di Indonesia. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dan didapatkan sebanyak 60 responden. Derajat keparahan melasma dinilai menggunakan skor melasma area severity index (MASI), sedangkan durasi penggunaan alat kontrasepsi hormonal dicatat dalam satuan bulan. Derajat keparahan melasma paling banyak berada pada kategori sedang (51,7%) dengan rata-rata skor MASI sebesar 17,7. Rata-rata durasi penggunaan alat kontrasepsi hormonal adalah 44,9 bulan. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik (r = 0,522; p < 0,001). Terdapat hubungan positif yang bermakna antara durasi penggunaan alat kontrasepsi hormonal dan derajat keparahan melasma, di mana semakin lama penggunaan kontrasepsi hormonal, semakin tinggi derajat keparahan melasma.
Cite
CITATION STYLE
Maryam, D., Sari, I. A. D. P., & Prabawa, A. (2025). STUDI CROSS-SECTIONAL ANALITIK : HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN DERAJAT KEPARAHAN MELASMA. Jurnal Kesehatan Tambusai, 6(4), 16511–16518. https://doi.org/10.31004/jkt.v6i4.53411
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.