HISTORISITAS POLITIK PEREMPUAN INDONESIA

  • Jati W
N/ACitations
Citations of this article
140Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

201 sehingga pria mempunyai fungsi autori-tatif dan regulatif kepada wanita dalam wujud domestifikasi. Domestifikasi ada-lah upaya untuk menundukkan wanita melalui serangkaian norma, perilaku, maupun nilai maskulinitas. Domestifi-kasi paling nyata adalah wanita yang dipaksa bekerja dalam dua kaki antara pekerjaan rumah tangga dan berkarir yang keduanya menjadikan wanita tid-ak bisa bebas sesutuhnya menjadi enti-tas mandiri. Kedua, doktrin agama yang masih konservatif dinilai terlalu mengekang kebebasan perempuan dalam ranah publik. Pemahaman ajaran agama Indo-nesia mempunyai kekuatan teologis un-tuk menundukkan posisi perempuan dalam kerangka inferioritas. Tanpa ber-maksud berpretensi menjadikan lelaki menjadi imam bagi perempuan, pema-haman doktrin agama yang cenderung konservatif telah membatasi ruang gerak perempuan dalam berbagai hal yang kesemunya menempatkan lelaki menjadi pionirnya. Jika diperhatikan secara seksama, sebenarnya agama juga memberikan ruang-ruang bagi per-empuan untuk berkreasi dan ber-ekspresi. Namun demikian semua hal tersebut tertutupi dengan adanya kata " melindungi wanita " yang selalu dikutip dalam berbagai rujukan sumber teologis yang pada intinya memberikan kaum pria bertindak lebih atas kaum perempuan demi perlindungan terse-but. Dalil tersebut sebenarnya ambigu untuk ditafsirkan karena pada dasarnya perempuan juga bisa mandiri untuk melindungi dirinya sendiri. Terkhusus bagi masalah politik (jinayah), perempu-an hanya cukup mendengarkan dan patuh kepada setiap apa yang telah di-usulkan oleh lelaki dalam ruang terse-but. Pada akhirnya, antara kultur patri-arki dan teologis kemudian bersinergis dalam membentuk konstruksi bahwa perempuan harus sepenuhnya berada dalam kekuasaan lelaki. Maka yang ter-jadi kemudian justru adalah me-nimbulkan perspektif bahwa lelaki ada-lah sumber dari segalanya (man is a measure of all things) sehingga menjadi-kan segala macam parameter maskulini-tas menjadi sumber rujukan penting. Ketiga adalah hegemoni negara yang hingga kini masih dipandang se-bagai negara kaum laki-laki. Adanya pandangan tersebut sebenarnya ingin memberikan penegasan bahwa urusan negara sebagai urusan vital yang perlu diserahkan kepada kaum lelaki sebagai administrator dan eksaminator dan per-empuan hanya menjadi asisten saja. Sebenarnya negara adalah ruang netral yang memberikan kesetaraan bagi siapa pun baik itu pria maupun wanita untuk bisa berkecimpung secara bersama da-l a m m e n g e l o l a n e g a r a . N a m u n demikian, pemahaman negara justru terjebak pada masalah diferensiasi ru-ang yang sepenuhnya dibagi atas dikotomi maskulin dan feminin. Ruang publik mengindikasikan ruang tersebut merupakan bagian dari domain pria yang mencakup keseluruhan kehidupan maupun bermasyarakat sedangkan ru-ang privat sendiri mengindikasikan adanya ruang bagi perempuan yang utilitasnya sendiri hanya digunakan un-tuk memenuhi kebutuhan rumah tang-ga. Namun demikian, membincangkan h e g e m o n i n e g a r a d a l a m u p a y a melakukan domestifikasi terhadap kaum perempuan rupanya lebih dari sebatas masalah ruang semata. Negara berupaya menetapkan berbagai macam produk-produk kultural yang berusaha untuk disematkan kepada kaum per-empuan. Misalnya saja, fertilitas, repro-duksi anak, gizi, maupun keluarga ber-encana yang kesemuanya dilakukan oleh berbagai saluran korporatisme negara seperti halnya Dasa Wisma, PKK, maupun Dharma Wanita yang s e n g a j a d i b e n t u k n e g a r a u n t u k

Cite

CITATION STYLE

APA

Jati, W. R. (2014). HISTORISITAS POLITIK PEREMPUAN INDONESIA. Paramita: Historical Studies Journal, 24(2). https://doi.org/10.15294/paramita.v24i2.3123

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free