Masjid dan Ruang Spiritualitas Bagi Difabel: Observasi Kritis terhadap Masjid-masjid Populer di Yogyakarta

  • Asparina A
N/ACitations
Citations of this article
53Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Sejatinya manusia beragama mempunyai ruang spiritualitas yang setara untuk menjalankan, merasakan, dan mengekpresikan keyakinannya. Tetapi, dalam tataran kenyataan semua itu terhambat oleh berbagai hal seperti kelas sosial, bias gender dan terutama yang paling sedikit mendapat perhatian adalah karena faktor disabilitas. Penelitian ini akan difokuskan pada konsep ruang spiritualitas Islam inklusif-ideal dalam al-Qur’an dan Hadis serta ruang spiritualitas bagi penyandang disabilitas di masjid-masjid populer Yoyakarta. Penulis akan menggunakan metode deskriptif-analitik dan pendekatan hermeneutik terhadap al-Qur’an dan Hadis dan observasi kritis serta wawancara terhadap pengelola masjid-masjid populer Yogyakarta. Hasilnya, konsep ruang spiritualitas dalam al-Qur’an, hadis, bahkan sejarah Islam awal, sangat ‘ramah’ terhadap difabel. Meskipun, dalam tataran historis, terutama di Masjid populer Yogyakarta, upaya membuka ruang yang ramah difabel masih terbatas oleh faktor sosial seperti mayoritas-minoritas, anggaran pembangunan fasilitas, menjaga tradisi leluhur, dan budaya yang sudah mapan. Oleh karenanya, penulis berusaha mebuat karakterisasi masjid yang dikelompokkan menjadi: masjid umum, masjid menuju sadar difabel, masjid sadar difabel, dan masjid ramah difabel.

Cite

CITATION STYLE

APA

Asparina, A. (2019). Masjid dan Ruang Spiritualitas Bagi Difabel: Observasi Kritis terhadap Masjid-masjid Populer di Yogyakarta. Living Islam: Journal of Islamic Discourses, 2(2), 247. https://doi.org/10.14421/lijid.v2i2.2014

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free