Abstract
Tulisan ini membahas bagaimana dalam sinema yang strukturnya secara dominan dan historis didominasi dan berangkat dari sudut pandang dan otoritas laki-laki, representasi perempuan dalam layar sinema kemudian tidak memberikan ruang bagi subjektivitas perempuan dan tidak mampu menghadirkan perempuan sebagai perempuan seutuhnya. Subjektivitas perempuan kemudian menjadi nilai penting karena memiliki kekuatan untuk memberikan penggambaran dan pandangan tentang perempuan apa adanya, hadir bukan sebagai ilusi. Subjektivitas sutradara perempuan menawarkan representasi perempuan yang lebih dekat dengan kehidupan. Menggunakan pendekatan yang berbeda dari kanon film arus utama, sutradara perempuan men-de-antagoniskan subjek perempuan dalam karyanya. Membaca subjektivitas sutradara perempuan yang menawarkan bahasa film yang berbeda dalam film Before, Now and Then (Nana) yang disutradarai oleh Kamila Andini, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode teori kritis, penulis berharap tulisan ini dapat menunjukkan bagaimana subjektivitas sutradara perempuan di balik layar perfilman sangatlah penting, karena melalui subjektivitasnya, sutradara memiliki kekuatan untuk menawarkan representasi perempuan secara aktif, bukan sebagai pelengkap, dan memiliki otonomi individu sebagai subjek yang utuh.
Cite
CITATION STYLE
Manggarsari, K. L., & Harsawibawa, A. (2023). Subjektivitas Sutradara Perempuan: Deantagonisasi Subjek Perempuan dalam Film Before, Now, and Then (Nana). IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru, 14(3), 230–243. https://doi.org/10.52290/i.v14i3.135
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.