Abstract
Di Indonesia, percakapan tentang dasar meta-etis dari perbuatan baik bagi sesama masih didominasi oleh agapisme, yaitu pemahaman bahwa agape adalah jenis cinta paling utama, dikerjakan oleh Allah, dan yang patut diterapkan oleh seorang Kristen. Penolakan secara teologis mulai muncul dari beberapa teolog seperti Ferry Mamahit dan Joas Adiprasetya. Mamahit mengkritik polarisasi dikotomis antara agape dan eros, sedangkan Adiprasetya mengembalikan nama baik philia di hadapan agape. Tulisan ini mengkritik agapisme, khususnya agapisme klasik dari Anders Nygren, melalui sudut bidik filsafat. Dengan aparatus antropologi filosofis dari seorang pemikir Kristen, James K. A. Smith, penulis menjelaskan bahwa menginginkan (cinta-erotis) adalah keniscayaan sebagai seorang manusia. Permasalahannya bukan terletak pada apakah manusia mau meninggalkan eros—sebagaimana secara normatif Nygren utarakan—sebab sejatinya eros sudah pasti menjadi dorongan utama yang mendasari perbuatan baik pada sesama. Masalahnya justru terletak pada apa yang menjadi tujuan akhir (causa finalis) dari perbuatan baik itu. Melengkapi pemikiran Smith, tulisan ini mengambil ide Nicholas Wolterstorff yang mengusung shalom sebagai causa finalis dari perbuatan baik seseorang. Upaya ini hendak menandaskan bahwa model Smith/Wolterstorff lebih sesuai kenyataan ketimbang agapisme.
Cite
CITATION STYLE
Aruan, A. K. (2019). Menyoal Agapisme Klasik di Indonesia. Indonesian Journal of Theology, 7(2), 189–206. https://doi.org/10.46567/ijt.v7i2.145
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.