AGAMA DAN TANTANGAN KEMANUSIAAN KONTEMPORER

  • Hudaeri M
N/ACitations
Citations of this article
5Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Wacana keagamaan kembali menguat ketika masyarakat dunia memasuki milenium ketiga. Kesadaran untuk kembali ke agama ini tidak bisa dilepaskan dari krisis modernitas yang tengah melanda masyarakat. Modernitas disamping mendatangkan kemakmuran material bagi sebagian masyarakat, ternyata juga mengandung berbagai macam paradoks, dehumanisasi dan alienasi.Munculnya berbagai macam penyakit kemanusian ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya ruang spiritual dari kehidupan manusia modern. Akibatnya, modernitas yang selama in diagung-agungkan, telah menyebabkan manusia menjadi kerdil kering dan hampa karena kehilangan makna dan tujuan hidup yang hakiki, yang berada pada ranah paling dalam pada diri manusia,yaitu spiritualitas. Untuk itulah agama kembali dilirik sebagai terapi krisis kemanusiaan.Namun demikian, tidak sedikit orang yang meragukan fungsi positif agama bahwa sebagian dari tindakan kekerasan, eksklusivisme dan berbagai pelanggaran nilai-nilai universal kemanusiaan dilakukan atas nama agama. Jadi bagaimana mungkin agama dapat berperan menjadi solusi krisis ?.Bagi sebagian cendekiawan dan agamawan, tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang diatasnamakan agama tersebut disebabkan oleh sesuatu yang kompleks. Salah satunya adalah ketidakmampuan sebagian pemeluk agama dalam memahamii nilai-nilai universal agamanya. Substansi agama telah direduksi oleh pemahaman yang sempit dan kepentingan sesaat.Untuk itulah, saat ini, diperlukan adanya rekonstruksi teologis pada setiap agama agar mampu menghadapi tantangan kemanusiaan kontemporer. Dengan demikian, agama dapat memberikan arah, makna dan tujuan hidup pada manusia, serta tampil secara lebih ramah, sejuk, terbuka dan humanis.Kata-kata Kunci: Krisis Modernitas, Agama Formal, Teologi Universal, Spiritual.

Cite

CITATION STYLE

APA

Hudaeri, M. (2001). AGAMA DAN TANTANGAN KEMANUSIAAN KONTEMPORER. ALQALAM, 18(90–91), 151. https://doi.org/10.32678/alqalam.v18i90-91.1468

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free