Abstract
Prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan merupakan salah satu indikator yang menjadi tolak ukur ketercapaian tujuan SDG’s ke-2 Tanpa Kelaparan. Pada masa pandemi Covid-19, persentase penduduk dengan ketidakcukupan konsumsi pangan (PoU) di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2019. Penelitian ini bertujuan untuk faktor-faktor yang memengaruhi PoU antarprovinsi di Indonesia tahun 2020. Pengaruh spasial perlu diperhitungkan karena terdapat autokorelasi spasial pada prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan antar provinsi, sehingga efek langsung dan tidak langsung dari faktor-faktor yang digunakan juga dianalisis. Dari penggunaan model regresi Spatial Autoregressive Confused (SAC) diketahui bahwa peningkatan pengeluaran perkapita, produksi beras perkapita, dan realisasi belanja bantuan sosial pemerintah daerah perkapita berpengaruh signifikan dalam menurunkan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan. Sebaliknya, peningkatan rata-rata inflasi makanan bulanan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan. Salah satu yang menjadi saran dari penelitian ini adalah perlu adanya perhatian pemerintah dalam mengkaji lebih lanjut terkait tingkat inflasi makanan. Inflasi makanan yang terjadi tanpa disertai peningkatan daya beli masyarakat, tetapi disebabkan oleh kelangkaan bahan baku dan sumber daya akan semakin menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan akan berdampak terhadap peningkatan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan.
Cite
CITATION STYLE
Solana, A. (2022). Analisis Spasial Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan di Indonesia Tahun 2020. Seminar Nasional Official Statistics, 2022(1), 1229–1238. https://doi.org/10.34123/semnasoffstat.v2022i1.1468
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.