Abstract
Artikel ini mengkaji pemahaman teologis tentang kemanusiaan dalam konteks perkembangan teknologi, khususnya Transhumanisme, dengan menggunakan konsep perikhoresis Kristus menurut Yohanes dari Damaskus. Konsep perikhoresis menunjukkan bahwa Kristus, sebagai satu pribadi, memiliki dua hakikat yang berbeda—yaitu keilahian dan kemanusiaan. Dalam perikhoresis, kedua hakikat ini, meskipun berbeda, saling menghuni, memberikan ruang satu sama lain, saling berputar, bergerak menuju satu sama lain, dan saling meresapi dalam suatu kesatuan yang tidak tercampur, tidak terbagi, dan tidak terpisahkan. Keberadaan manusia di era Transhumanisme yang menggunakan teknologi robotik (manusia bionik) mencerminkan dinamika perikhoresis, yang menunjukkan adanya dua unsur berbeda, yaitu tubuh biologis dan tubuh robotik. Kedua unsur ini saling menghuni, berhubungan, melengkapi, dan meresapi satu sama lain tanpa menghilangkan salah satu unsur. Dengan demikian, konsep perikhoresis Kristus menurut Yohanes dari Damaskus dapat digunakan sebagai metafora konstruktif untuk memahami identitas manusia di era integrasi teknologi yang dinamis dan becoming.
Cite
CITATION STYLE
Simanjuntak, Y. S. B., & Marpaung, F. B. S. (2024). Manusia dan Tantangan Transhumanisme. Theologia in Loco, 6(2), 175–192. https://doi.org/10.55935/thilo.v6i2.311
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.