Abstract
Masyarakat adat Cireundeu merupakan sebuah sistem sosial yang memiliki sistem keyakinan, sistem nilai, sistem norma dan simbol tersendiri. Empat sistem tersebut menghadapi desakan kontinuitas dan diskontinuitas pada saat terjadi parokialisasi tradisi besar Islam dan modernitas. Kuatnya arus parokialisasi menyebabkan masyarakat Cireundeu lebih adaptif terhadap kultur Islam pada tataran simbol. Hal ini terlihat dalam pencantuman Islam sebagai agama dalam KTP mereka. Pada sisi lain, mereka masih mampu mempertahankan dan melanjutkan keyakinan, nilai dan norma yang dianutnya. Adapun sikap mereka terhadap parokialisasi modernitas ternyata lebih luas, kecuali dalam beragama. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriftif analisis dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menganalisis dan menggambarkan kondisi sesuai dengan kejadian yang dilihat melalui observasi dan apa yang diperoleh melalui wawancara serta dokumen-dokumen yang didapat. Penelitian kualitatif untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan dan untuk membantu mengenai perilaku manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kampung Cireundeu yang terletak di daerah Cimahi kelurahan Leuwi Gajah Kecamatan Cimahi Selatan, terdapat dua agama yakni Islam dan kepercayaan (Sunda Wiwitan). Pemeluk dua agama ini senantiasa rukun. Mereka menganggap perbedaan ini sebeagai sebuah pelengkap satu sama lain. Dua agama ini hidup berdampingan. Hal ini berdampak pada perkembangan dakwah di kampung Cireundeu menjadi soroton disebabkan tidak sedikit para penganut Sunda Wiwitan mengaku dirinya Islam di KTP agar diakui. Hal ini menjadi problem bagi muslim karena Islam hanya dijadikan sebagai identitas di KTP saja. Grafik perkembangan dakwah di kampung adat Cireundeu senantiasa berkembang dari tahun ke tahun walaupun perkembangannya masih dari segi kuantitas bukan kualitas. Kampung Adat Cireundeu merupakan rekonstruksi cara-cara kehidupan masyarakat tradisional Sunda. Apabila diperhatikan lebih jauh, maka akan ditemukan berbagai keunikan di Kampung Cireundeu. Hal tersebut dimulai dari tinggal bersama kokolot, para seniman Sunda, hingga akan ditemukan ibu-ibu yang menumbuk padi di saung lisung, memasak dengan kayu bakar dalam hawu, melihat para petani bercocok tanam, dan belajar kesenian tradisional Sunda dan cara mengolah singkong menjadi makanan pokok. Berdasarkan hal tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa Kampung Cireundeu merupakan salah satu alternatif tempat wisata yang memberikan berbagai pilihan wisata dengan suasana kehidupan masyarakat agraris tradisional Sunda. Berdasarkan kriteria tersebut kemudian Pemkot Cimahi menjadikan Kampung Cireundeu sebagai destinasi wisata kebudayaan.
Cite
CITATION STYLE
Setiawan, W., Sandy, G. M., & Alvianita, E. (2023). ELEMEN BUDAYA DI KAMPUNG CIREUNDEU SEBAGAI JEMBATAN DALAM KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA. An-Nahdliyyah: Jurnal Studi Keislaman, 2(1), 203–227. https://doi.org/10.70502/ajsk.v2i1.46
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.