Abstract
KH. Ahmad Dahlan mendorong murid-murid perempuannya untuk mengenakan penutup kepala yang disebut sebagai kudung. Hal ini dianggap tidak wajar karena kudung masa itu umumnya hanya dikenakan oleh perempuan yang telah melaksanakan ibadah haji. Anjuran mengenakan kudung ini berlanjut setelah Muhammadiyah didirikan. Artikel ini berupaya mengungkapkan bagaimana anjuran mengenakan kudung dirintis sebelum adanya anjuran resmi mengenai pakaian Islami yang disampaikan dalam Kongres Muhammadiyah XX tahun 1931 dan bagaimana anjuran tersebut diterima di kalangan anggota Muhammadiyah. Penelitian dilakukan dengan metode sejarah. Sumber utama yang digunakan adalah Soeara Aisijah yang terbit antara tahun 1926-1932. Informasi dikumpulkan dari artikel, foto, dan iklan yang ditampilkan dalam majalah ini. Selain dari Soeara Aisjijah, data-data juga diambil dari media cetak sezaman lain dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rintisan anjuran ber-kudung dimulai oleh KH Ahmad Dahlan kepada murid-murid perempuannya melalui lembaga pendidikan yang kemudian menjadi rintisan berdirinya organisasi Muhammadiyah. Anjuran ini kemudian dilanjutkan dan semakin gencar dengan berdirinya Aisyiyah yang menaungi anggota perempuan Muhammadiyah. Majalah Soeara Aisjijah menjadi salah satu media penting dalam menyebarluaskan anjuran ini. Rintisan anjuran mengenakan kudung belum dapat diterima oleh semua anggota perempuan Muhammadiyah. Hal ini menimbulkan kritikan dari berbagai pihak yang kemudian mendorong adanya anjuran mengenai cara berpakaian bagi perempuan pada Congres Muhammadiyah XX
Cite
CITATION STYLE
Husna, K. A. (2023). RINTISAN ANJURAN BERKUDUNG OLEH MUHAMMADIYAH (1910-1931). SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(4), 1313–1321. https://doi.org/10.55681/sentri.v2i4.749
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.