DIGLOSIA LANGUAGE IN DRUG SERVICES AT THE PHARMACY ANWAR MEDIKA SIDOARJO HOSPITAL

  • Suwito
N/ACitations
Citations of this article
6Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Communication is a drug service in pharmacy because of its activities as speakers and speech partners because basically communication between speakers and speakers is a sociolinguistic field. The events that occur in language contact carried out by speakers and speech partners at drug services in pharmacies do not occur in a language diglossia. The research objective was to determine the language diglossia in anwar Medika hospital pharmacy. This research uses descriptive qualitative method. Where researchers are placed as the key. Data discussion is done by reducing data, presenting data and drawing a conclusion. The result of the discussion based on Data A is a sentence uttered by a speaker delivered in communicative language that is easy to understand. The answer of a diapotek buyer does not use Indonesian as discussed by the waiter, but speaking in krama alus, generally using Javanese has the best position. Data B, does not use a variety of speeches and interlocutors, because they are the same age in health services to the buyer to convey in smooth, clear and easy to understand language and so that the interlocutor answers in a short language. Data C, a conversation with their servants explained in detail, and was understood. The greeting sentence that is always spoken proves the existence of a person speaking to.Komunikasi merupakan  sebuah pelayanan  obat pada farmasi karena kegiatanya  sebagai penutur  dan  mitra  tutur karena pada dasarnya komunikasi antara penutur dan mitratutur merupakan bidang sosiolinguistik. Peristiwa yang terjadi dalam kontak bahasa yang dilakukan oleh  penutur dan mitra tutur pada  pelayanan obat  di apotek  karena tidak terjadi pada sebuah diglosia bahasa. Adapun tujuan penelitian adalah  untuk mengetahui diglosia bahasa di apotek rumah sakit anwar medika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dimana peneliti ditempatkan sebagai kunci.  Pembahasaan  data   dilakukan dengan    reduksi data, penyajian data dan  penarikan sebuah simpulan. Hasil  pembahasaan yang  berdasarkan pada Data  A  adalah sebuah kalimat diucapkan oleh penutur disampaikan dengan bahasa yang  komunikatif yang mudah dipahami. Jawaban seorang  pembeli diapotek tidak  menggunakan bahasa Indonesia seperti yang dibicarakan pelayan, tetapi melakukan tuturan bahasa  krama alus  pada umumnya  penggunan bahasa jawa mempunyai kedudukan yang paling baik. Data B, tidak mengunakan sebuah ragam tuturan dan lawan tutur, karena mereka usianya sama dalam pelayanan kesehatan kepada pembeli menyampaikan dengan bahasa yang halus, jelas dan mudah dimengerti dan  sehingga lawan bicara  menjawab bahasa yang singat. Data C, sebuah  perbincangan dengan para pelayan mereka   menerangkan secara terperinci detail, dan dipahami. Kalimat  sapaan yang selalu diucapkan, membuktikan keberadaaan sebuah lawan bicara.

Cite

CITATION STYLE

APA

Suwito. (2020). DIGLOSIA LANGUAGE IN DRUG SERVICES AT THE PHARMACY ANWAR MEDIKA SIDOARJO HOSPITAL. Jurnal Disastri, 2(3), 128–133. https://doi.org/10.33752/disastri.v2i3.1137

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free