Abstract
This study aims to describe a wealthy student’s habitus who does not get enough attention from parents but can make school achievements. Parents’ role is vital in children’s learning development process and becomes an encouragement to increase children’s enthusiasm for learning. In this case, wealthy students with achievements are often seen as something normal. However, upper-class students who do not get enough attention from their parents because of being busy at work but can make achievements are exciting things to study, especially to observe the habitus that shapes them. This study uses a qualitative method with a life history approach. This study’s single informant is Maulana, a high school student in Cilacap city, Central Java Province, Indonesia. Selection of informant using a purposive sampling technique. The study results indicate that a separate living house forms the habitus of Maulana as an independent student. Independent, in this case, means that he has the initiative to learn without coercion. The achievements he made were a form of strategy to attract the attention of his parents. The achievements that are always compared to his older siblings have boosted Maulana’s enthusiasm to improve his achievements. In this case, the study results stated that the habitus is formed from the capital (social, economic, cultural, and symbolic) of the individual. Parents’ busyness is not a problem in getting their performance at school.Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan habitus seorang siswa kaya yang kurang mendapat perhatian dari orang tua namun dapat meraih prestasi di sekolah. Peran orang tua menjadi vital dalam proses perkembangan belajar anak di sekolah dan menjadi suatu dorongan yang dapat meningkatkan semangat belajar anak. Dalam hal ini, siswa kaya berprestasi sering dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar. Namun, siswa kelas atas yang kurang mendapat cukup perhatian dari orang tua karena kesibukan dalam pekerjaan namun dapat meraih prestasi menjadi hal menarik untuk dikaji, terutama untuk melihat habitus yang membentuknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan life history. Informan tunggal dalam penelitian ini yaitu Maulana, seorang siswa Sekolah Menengah Atas di kota Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Pemilihan informan menggunakan teknik sampel purposif. Hasil studi menunjukkan bahwa latar belakang kondisi tempat tinggal yang terpisah membentuk habitus Maulana sebagai siswa yang mandiri. Mandiri dalam hal ini bermakna bahwa ia memiliki inisiatif untuk belajar tanpa paksaan. Prestasi yang ia capai merupakan bentuk strategi untuk menarik perhatian orang tuanya. Capaian prestasi yang selalu dibandingkan dengan kakaknya menjadi pemacu semangat Maulana untuk meningkatkan prestasinya. Dalam hal ini, hasil penelitian menyatakan bahwa habitus terbentuk atas modal (sosial, ekonomi, budaya, dan simbolik) yang dimiliki individu. Kesibukan orang tua bukan menjadi persoalan dalam memperoleh prestasinya di sekolah.
Cite
CITATION STYLE
Izah, N., Martono, N., & Mintarti, M. (2020). Portrait of Maulana’s Life: A Wealthy, Independent, and Outstanding Student. Society, 8(2), 707–718. https://doi.org/10.33019/society.v8i2.240
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.