Abstract
Dalam berdakwah menghadapi hambatan adalah suatu keniscayaan. Hambatan banyak variannya bisa datang dari seorang da’i atau dari objek dakwah itu sendiri. Kewajiban seorang da’i harus mampu mengatasi berbagai macam problematika dakwah. Ada model hambatan dakwah yang bersifat alamiah, kemampuan intelektual atau kurang bijak dalam mengaplikasikan etika dan estetika. Tulisan ini adalah model kualitatif, studi kepustakaan dengan basis sumber utama buku klasik ilmu dakwah yang berliteratur bahasa Arab, didukung pula dengan khasanah buku Tsaqofah Islamiyah. Adapun data sekundernya adalah wawasan yang bersumber dari website baik berupa artikel jurnal, surat kabar atau sumber lainya. Sebagai kesimpulan, seorang da’i dituntut untuk berlaku bijak dalam menjalankan misi dakwahnya. Mempermudah adalah solusinya, pahami orang lain itu punya latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Permudahlah dengan memperhatikan tahapan dalam menyampaikan misi, tidak terlalu banyak membebani tugas dan usahakan untuk membantu mengurangi beban yang ia rasakan. Harus diperhatikan pula metodologi dakwah, penggunaan cara dan media dalam berdakwah. Tugas da’i hanya menyampaikan pesan bukan memberi keputusan si mad’u itu harus di jalan yang benar atau salah. Sampaikan saja hasil dakwah di tangan Allah SWT.
Cite
CITATION STYLE
Iman, S. B., & Estuningtyas, R. D. (2022). TANTANGAN DAKWAH (Haruskah Dakwah Dipersulit Atau Dipermudah?). RETORIKA : Jurnal Kajian Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 4(1), 19–40. https://doi.org/10.47435/retorika.v4i1.882
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.