PENANGANAN KONFLIK SOSIAL MELALUI BUDAYA LOKAL

  • Arsal T
  • Setyowati D
  • Hardati P
  • et al.
N/ACitations
Citations of this article
86Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Persepsi konflik semakin berkembang, dari yang ringan kategori berat. Konflik ringan dapat berbentuk hal yang kontradiktif, bersinggungan, berseberangan, konflik ringan berupa persengketaan, konflik berat berupa pertikaian, kekerasan, dan perang. Konflik tidak lebih dari karakter kehidupan yang sering muncul dalam proses sosial manusia. Proses interaksi antar manusia menuntun pada realitas konflik, yang setiap inci dapat terjadi gesekan, benturan, pertentangan, atau pertikaian, dan bahkan perang. Konflik dalam pengertian ringan dapat berfungsi positif, sedangkan jika sudah menjurus pada kekerasan, atau perang konflik memiliki konotasi negatif, oleh karena itu harus ada upaya yang tepat, dan akurat untuk menyelesaikan konflik agar tidak menambah korban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat organisasi kepemudaan yang ada di Desa Cikeusal Kidul selain karang taruna desa yaitu IPNU-IPPNU. Organisasi ini memiliki banyak kegiatan yang bermanfaat bagi anggota serta masyarakat Cikeusal Kidul, mulai dari marhaban keliling mingguan, rapat triwulan, rutinan tahunan, dan pengamanan masyarakat. Organisasi ini memiliki peran yang dalam terciptanya perdamaian antara desa Cikeusal Kidul dan Cikeusal Lor. Adanya organisasi semacam ini dapat membuat warga menjadi lebih produktif dan berminat sehingga dapat meminimalisasi konflik yang terjadi pada antar desa tersebut.

Cite

CITATION STYLE

APA

Arsal, T., Setyowati, D. L., Hardati, P., & Atmaja, H. T. (2022). PENANGANAN KONFLIK SOSIAL MELALUI BUDAYA LOKAL. Bookchapter Alam Universitas Negeri Semarang, (1), 47–69. https://doi.org/10.15294/ka.v1i1.85

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free