Abstract
Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit tidak menular yang menyebabkan angka kematian tertinggi di dunia mencapai 16,6 %. Kota Tarakan merupakan salah kota yang berada di provinsi Kalimantan Utara. Berdasarkan hasil data Riskesdas Tahun 2018, prevalensi penyakit jantung koroner paling tinggi berada di provinsi Kalimantan Utara. Fasilitas laboratorium kateterisasi jantung belum tersedia, sehingga terpai fibrinolitik masih merupakan terapi reperfusi utama untuk pasien STEMI. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat gambaran penggunaan fibrinolitik di Rumah Sakit “X” di Kota Tarakan. Metode penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif retrospektif untuk mengetahui penggunaan fibrinolotik pada pasien penyakit STEMI yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit ‘X” di Kota Tarakan periode Januari 2017 – Desember 2018. Berdasarkan penelitian diperoleh sebanyak 39 pasien yang didiagnosa STEMI. Golongan fibrinolitik yang digunakan adalah golongan spesifik fibrin dan golongan non spesifik fibrin. Penggunaan obat Alteplase sebanyak 13 pasien (33,33%). Pemberian Alteplase dibagi menjadi 3 dosis yaitu 15 mg diberikan secara bolus pada tahap awal, selanjutnya 50 mg diberikan secara infus intravena dengan dosis 50 mg selama 30 menit, dan terkahir 35 mg selama 60 menit. Pasien yang menggunakan Streptokinase sebanyak 26 orang (66,66%), penggunaan Streptokinase diberikan secara intravena dengan dosis 1,5 juta IU dalam 100 mL larutan NaCl selama 30-60 menit. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa fibrinolitik yang paling banyak digunakan dalam penelitian ini adalah golongan nonspesifik fibrin sebanyak 26 pasien (66,66%).
Cite
CITATION STYLE
Anggreani, M., Novrianti, I., & Wijayanti, S. (2022). Gambaran Penggunaan Fibrinolitik Pada Pasien Stemi (St-Segment Elevation Myocardial Infarction) Di Rumah Sakit “X” Di Kota Tarakan. Media Farmasi, 18(1), 30. https://doi.org/10.32382/mf.v18i1.2450
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.