Abstract
Penelitian ini mengkaji fenomena “iman kabur” pada generasi muda di era digital, ketika iman lebih sering tampil sebagai pengakuan deklaratif yang lepas dari partisipasi komunal dan kedalaman relasional. Berdasarkan temuan internasional dan nasional, iman kabur terwujud dalam tiga bentuk: deklarasi tanpa partisipasi, afeksi tanpa kedalaman doktrinal, serta privatisasi moral. Dengan kerangka personalisme Karol Wojtyła, Thomas Aquinas, dan Emmanuel Lévinas, fenomena ini dipahami bukan sekadar penurunan religiositas, melainkan krisis relasi—terputusnya perjumpaan Aku–Engkau dengan Allah dan sesama. Budaya digital mempercepat krisis ini, mengedepankan afeksi instan daripada komitmen dan solidaritas. Dalam konteks Indonesia, nilai komunal seperti gotong royong dapat menjadi koreksi filosofis. Hasil penelitian ini menegaskan perlunya kriteria personalistik dalam pendidikan agama dan praksis pastoral untuk memulihkan iman sebagai realitas relasional yang hidup.
Cite
CITATION STYLE
Neonnub, P. (2025). Iman Kabur Generasi Muda: Analisis Personalistik Tentang Krisis Religius Di Era Digital. Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, 91–99. https://doi.org/10.61831/gvjkp.v9i2.269
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.