Jurnalisme Warga: Liyan, Timpang dan Diskriminatif

  • Eddyono A
  • HT F
  • Irawanto B
N/ACitations
Citations of this article
119Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Keterlibatan warga dalam menyampaikan informasi yang luput dilakukan oleh jurnalis profesional  masih bisa kita lihat hingga kini. Terutama pada peristiwa-peristiwa bencana alam seperti gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala pada akhir September 2018. Hal ini menunjukkan praktik jurnalisme warga masih mungkin dijalankan. Hanya saja, di ranah akedemis, riset jurnalisme warga di Indonesia tidak terlalu variatif dan terkesan berjalan di tempat, didominasi pembicaraan sejauh mana peran dan efektivitasnya berdasarkan model-model tertentu. Situasi ini sebaiknya diatasi. Salah satunya dengan menghadirkan cara berpikir cultural studies dalam mengkaji isu-isu jurnalisme warga. Cultural studies atau kajian budaya adalah kajian kritis yang mampu membantu periset menyelami beragam hal, yakni representasi, regulasi, identitas, konsumsi, dan produksi di mana masing-masing bisa saling terkait satu sama lain. Masalah lain yang saya temukan adalah pemahaman jurnalisme warga, yang selama ini berkembang  perlu dikritisi karena tidak kontekstual dan cenderung asal klaim. Saya beranggapan jurnalisme warga adalah praktik yang timpang, eksklusif, elitis, dan diskriminatif. Keberadaaannya menjadi liyan bagi jurnalisme dominan. Artikel ini juga merupakan autokritik atas pemahaman saya soal jurnalisme warga dalam riset saya sebelumnya. Kata kunci: jurnalisme warga, kajian budaya, keberagaman informasi, demokrasi, distingsi

Cite

CITATION STYLE

APA

Eddyono, A. S., HT, F., & Irawanto, B. (2019). Jurnalisme Warga: Liyan, Timpang dan Diskriminatif. Profetik: Jurnal Komunikasi, 12(1), 61. https://doi.org/10.14421/pjk.v12i1.1498

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free