Abstract
Moderasi beragama lahir sebagai solusi atas permasalahan terhadap dua pemahaman yang melahirkan konflik yakni paham fundamentalis akan melahirkan tindakan yang radikal, dan paham liberalis akan melahirkan tindakan yang bebas serta menyimpang dari norma yang berlaku. Atas dasar itulah moderasi beragama bisa berdampak pada positif bagi keseimbangan diantara paham liberalisme dan fundamentalisme. Moderasi beragama dapat terjaga dan dilestarikan dengan tiga pilar yakni pilar keadilan, pilar keseimbangan dan pilar toleransi yang tinggi. Selain itu peran berbagai tokoh juga sangat berpengaruh bagi terciptanya moderasi beragama yang ideal baik itu peran tokoh masyarakat, tokoh agama, serta tokoh pendidikan yang semuanya harus saling bahu membahu dalam menangani permasalahan atau konflik intoleran dalam kehidupan beragama yang majemuk. Dengan menumbuhkan sikap moderasi dalam beragama dan berbudaya, maka mayoritas harus menghormati dan merangkul yang minoritas. Islam mengharuskan umatnya untuk memiliki sifat toleransi dalam beragama yakni mengayomi yang minoritas dan memberikan kebebasan pada yang minoritas untuk beribadah sebagaimana yang diyakininya. Al-Qur’an telah menjelaskan perlunya sikap saling menghormati serta menghargai perbedaan tanpa adanya paksaan dalam memeluk agama manapun dan hal tersebut telah tertuang dalam Q.S. Yunus: 99 yang maknanya: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya”.
Cite
CITATION STYLE
Syauqani, S. (2023). Implementasi Moderasi Beragama Perspektif Interpretasi Q.S. Yunus: 99. EJurnal Al Musthafa, 3(1). https://doi.org/10.62552/ejam.v3i1.58
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.