Abstract
Diabetes melitus merupakan penyakit yang banyak ditemui sehari-hari, akan tetapi memiliki manifestasi klinis yang tidak lazim. Salah satu manifestasinya adalah sindroma hemichorea-hemiballismus, spektrum gerakan involunter yang berlangsung terus-menerus tanpa pola dan melibatkan satu sisi tubuh akibat hiperglikemia non-ketotik pada diabetes yang tidak terkontrol. Dilaporkan dua kasus pasien diabetes dengan hiperglikemia non-ketotik yang mengalami sindrom hemichorea-hemiballismus. Kasus pertama – wanita 57 tahun mengalami gerakan involunter, repetitif, dan tidak berirama di lengan dan tungkai kanan, disertai kedutan di wajah kanan selama dua minggu. Pasien tersebut memiliki riwayat diabetes melitus tidak terkontrol. Kasus kedua – laki-laki 60 tahun dengan kejang umum tonik-klonik. Pasien mengalami gerakan involunter pada lengan kanan selama empat hari dan riwayat diabetes sebelumnya tidak diketahui. Terapi diazepam intravena tidak memberikan respons terhadap kejang. Gambaran CT scan kepala pada kedua pasien menunjukkan lesi hiperdens pada ganglia basalis yang diduga disebabkan oleh hiperglikemia non-ketotik, akan tetapi lesi hiperdens pada pasien kedua tampak lebih luas. Gerakan involunter membaik setelah target glukosa darah tercapai dengan rehidrasi dan insulin intravena kontinyu. Respons klinis pada kasus hemichorea-hemiballismus di atas bersifat reversibel meskipun gambaran lesi hiperdens dapat bertahan selama berbulan-bulan
Cite
CITATION STYLE
Sasiarini, L., Budianto, R., & Tarigan, R. C. (2019). Kasus Serial Sindrom Hemichorea-Hemiballismus terkait Non-Ketotik : Tantangan dalam Proses Diagnosis. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 6(1), 42. https://doi.org/10.7454/jpdi.v6i1.247
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.