Abstract
Kebudayaan memiliki religinya sendiri dan agama juga memiliki poin iman tersendiri. Sebelum mengenal agama formal masyarakat tradisional sudah menganut agama asli dengan keyakinan pada Wujud Tertinggi yang digambarkan bersifat kosmik. Namun karya pewartaan misioner telah jauh berkembang dan agama-agama resmi mulai dikenal. Selain menganut agama Katolik masyarakat Lamaholot juga masih tetap mempertahankan alam kerohanian asli. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisa Miles dan Huberman. keyakinan tradisional atau kepercayaan pada Wujud Tertinggi atau allah dalam budaya Lamoholot memiliki persamaan dan perbedaan dengan Allah dalam Ajaran Gereja Katolik. Pengalaman akan Allah dalam budaya dan dalam agama berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Persamaan dari keduanya ialah memiliki sifat transenden dan imanen. Keduanya berbeda bahwa Allah dalam ajaran Gereja Katolik memiliki nama yang jelas (Allah Tritungga: Bapa, Putra, Roh Kudus) dan Allah dalam budaya Lamaholot bersifat anonim, disapa dengan ungkapan. Wujud Tertinggi ada dan berkembang dalam cara pikir tradisional.
Cite
CITATION STYLE
Soge, Y. G., Rikki, R., & Tarihoran, E. (2023). Gambaran Allah Menurut Budaya Lamaholot Dengan Allah Dalam Ajaran Gereja Katolik. In Theos : Jurnal Pendidikan Dan Theologi, 1(8), 242–248. https://doi.org/10.56393/intheos.v1i8.1186
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.