Abstract
Drama Korea memiliki fungsi sebagai media guna menyebarkan pesan, nilai serta kebiasaan di masyarakat. Drama Korea Juvenile Justice membahas isu kriminal anak-anak remaja. Drama ini memberikan persperktif seorang hakim dalam menangani beragam perkara tersebut dengan asertivitasnya, dimana di indonesia saat ini masih belum tersedia drama televisi dengan tema drama ruang pengadilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi asertivitas dari seorang hakim saat menangani persoalan kasus dan menjatuhkan vonis hukuman pada pelaku kriminalitas remaja dalam serial Juvenile Justice. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika kualitatif milik John Fiske. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asertivitas ada secara verbal dan non-verbal. Secara verbal, berani beda pendapat, rinci dalam berbicara, tepat dalam intonasi, dapat mengendalikan emosi, memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk berpikir dan bersuara, serta mengungkapkan fakta sesuai dengan kenyataan. Non-verbalnya secara jarak saat kontak fisik dan berbicara, bahasa tubuh juga penampilan. Orang dengan kompetansi, punya bahasa tubuh yang baik, memprioritaskan formalitas dan memiliki kontrol emosional yang baik adalah penggambaran asertivitas yang ditampilkan.
Cite
CITATION STYLE
Santoso, P. D., & Claretta, D. (2023). Representasi Asertivitas dalam Drama Korea Juvenile Justice. Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi Dan Komunikasi), 7(4), 707–713. https://doi.org/10.35870/jtik.v7i4.1913
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.