PERSPEKTIF HADIS NABI SAW. TENTANG ZUHUD

  • Saad S
N/ACitations
Citations of this article
44Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Dilihat dari perspektif hadis Nabi saw, zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan hal-hal duniawi, tetapi merasa hati lebih terpaut kepada apa yang di sisi Allah daripada kepada harta, serta lebih berharap akan pahala dari musibah yang menimpa. Zuhud tidak selalu identik dengan kemiskinan. Kaya harta dengan cara yang halal, dan tidak menghambakan diri kepada kekayaan tersebut, sebaliknya hati selalu terpaut dengan apa yang ada di sisi Allah, juga merupakan zuhud.Dari perspektif hadis pula, pada hakikatnya zuhud ada dua: 1) zuhud dari dunia, dan 2) zuhud dari apa yang dimiliki manusia. Zuhud terhadap dunia, bukanlah dengan mengharamkan hal-hal yang dihalalkan oleh syariat, tetapi "hati lebih terpaut kepada apa yang ada di sisi Allah dari pada kepada apa yang kita miliki': dan 'Jika ditimpa musibah duniawi, lebih berharap akan pahalanya daripada tidak adanya musibah itu sendiri': Sementara, zuhud terhadap milik manusia akan menimbulkan rasa cinta mereka kepada kita.

Cite

CITATION STYLE

APA

Saad, S. (2006). PERSPEKTIF HADIS NABI SAW. TENTANG ZUHUD. ALQALAM, 23(3), 355. https://doi.org/10.32678/alqalam.v23i3.1502

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free