IDENTIFIKASI AUTOKORELASI SPASIAL PADA PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA BANDUNG

  • Habinuddin E
N/ACitations
Citations of this article
136Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

Kasus wabah Demam Berdarah Dengue (DBD)  di kota Bandung merupakan penyakit yang masih paling tinggi dibanding dengan kabupaten atau kota lain di Indonesia. Sebaran DBD di Kota Bandung dapat diidentifikasi dengan analisis secara spasial. Metode spasial yag digunakan yaitu  autokorelasi spasial (spatial autocorrelation), Indeks Moran (Moran’s I), Rasio Gery (Geary’s C) dan Local Indicator of Spatial Association (LISA).  Hasil yang  diperoleh bahwa terdapat autokorelasi antar wilayah kecamatan dengan 30 kecamatan dengan menggunakan metode Moran’s I , dan  tidak terdapat autokorelasi spasial dengan metode Geary’s C . Metode Moran’s I bersifat autokorealasi spasial positif  dengan pola  sebaran mengelompok (Cluster).  Dengan Moran ’s Scatterplot dan pengujian Local Indicator of Spatial autocorrelation (LISA)  diperoleh bahwa daerah yang rawan terhadap penyebaran DBD adalah kecamatan Kiaracondong , Antapani pada Kuadran High-High (HH), kecamatan Cidadap , Mandalajati  berada di Kuadran Low-High (LH), dan  kecamatan Astana Anyar, Sumur Bandung, Regol dan Andir  termasuk dalam kategori daerah aman, karena berada pada Kuadran Low-Low (LL). Kata kunci: Spatial autocorrelation, Moran’s I, Geary’s C, Moran’s Scatterplot, LISA

Cite

CITATION STYLE

APA

Habinuddin, E. (2021). IDENTIFIKASI AUTOKORELASI SPASIAL PADA PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA BANDUNG. Sigma-Mu, 13(1), 7–15. https://doi.org/10.35313/sigmamu.v13i1.3648

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free