Abstract
Indonesia has approximately 7,000 rivers, most of which have experienced significant degradation in quality and are in alarming conditions. Many cities in Indonesia have historically developed along riverbanks, making the decline of these waterways particularly concerning. The deterioration of river quality and riverbank areas is attributed to various factors, including pollution, deforestation, and the uncontrolled disposal of industrial and domestic waste. These issues not only threaten the health of river ecosystems but also jeopardize the sustainability of communities that depend on these natural resources and contribute to various urban challenges. Communities residing in riverbank settlements are among the most affected by these environmental issues. Therefore, they require clear and accurate information regarding the dangers of pollution and the importance of maintaining river cleanliness. This research is conducted in qualitative approach with descriptive analysis technique. This study examines the development of riverbank areas in Indonesian cities by referring to the stages of waterfront development proposed by Wrenn (1983). Additionally, it explores the concept of riverfront tourism as a form of urban regeneration and urban tourism development. The regeneration of riverbank areas for tourism purposes is expected to raise awareness among stakeholders regarding the social and environmental significance of these areas. If properly developed, riverfront tourism can contribute to the enhancement of destination quality, fostering sustainable and competitive tourism development.Indonesia memiliki sekitar 7.000 sungai, yang sebagian besar mengalami penurunan kualitas secara signifikan dan berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Padahal, banyak kota di Indonesia berkembang dari kawasan di sepanjang sungai. Degradasi kualitas sungai dan kawasan bantaran sungai disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk polusi, deforestasi, serta pembuangan limbah industri dan domestik yang tidak terkendali. Kondisi ini tidak hanya mengancam kesehatan ekosistem sungai, tetapi juga berdampak pada keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya air, serta berkontribusi terhadap berbagai permasalahan perkotaan. Masyarakat yang bermukim di kawasan bantaran sungai merupakan kelompok yang paling terdampak oleh permasalahan ini. Oleh karena itu, mereka membutuhkan informasi yang jelas dan akurat mengenai bahaya polusi serta urgensi menjaga kebersihan sungai. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini menganalisis fenomena perkembangan kawasan bantaran sungai di kota-kota Indonesia dengan merujuk pada tahapan perkembangan kawasan tepi air (waterfront development) sebagaimana dikemukakan oleh Wrenn (1983). Selain itu, penelitian ini juga membahas konsep pariwisata tepi sungai (riverfront tourism) sebagai salah satu bentuk regenerasi perkotaan (urban regeneration) dan pengembangan pariwisata perkotaan (urban tourism). Regenerasi kawasan bantaran sungai untuk kepentingan pariwisata diharapkan dapat meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan terhadap pentingnya konservasi kawasan tersebut, baik dari perspektif sosial maupun lingkungan. Jika dikembangkan secara optimal, kawasan wisata tepi sungai dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas destinasi pariwisata. sehingga mampu berkembang menjadi destinasi yang berkelanjutan dan berdaya saing
Cite
CITATION STYLE
Damanik, F. K., Pravita Wahyuningtyas, B., & Hidayat Putro, H. P. (2025). ANALISIS TAHAPAN PERKEMBANGAN RIVERFRONT TOURISM DI INDONESIA [Analysis of Riverfront Tourism Growth in Indonesia]. Bogor Hospitality Journal, 9(1), 56–63. https://doi.org/10.55882/bhj.v9i1.160
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.