Abstract
Pitiriasis rosea (PR) merupakan kelainan kulit akut papuloskuamosa yang swasirna. Kejadian PR di seluruh dunia dilaporkan sebanyak 0,3-1,2%. Infeksi human herpes virus (HHV) 6, 7, dan beberapa obat mencetuskan kejadian PR. Gejala klinis diawali dengan lesi primer berupa herald patch, diikuti lesi sekunder berukuran lebih kecil yang tersebar pada garis langer batang tubuh, dapat meluas ke lengan dan paha atas. Klasifikasi PR terbagi menjadi tipikal dan atipikal berdasarkan keberadaan herald patch, lokasi lesi, morfologi lesi, dan perjalan penyakit. Terdapat tiga kriteria untuk mendiagnosis PR, yaitu kriteria esensial, opsional, dan eksklusi. Derajat keparahan PR ditentukan dengan Pityriasis Rosea Severity Score (PRSS). Pemeriksaan dermoskopi dan histopatologi dapat membantu diagnosis. Gambaran dermoskopi berupa background yellow-orange, dull red, dan bright red; warna skuama yellow-white, white, dan white-brown; susunan skuama patchy, peripheral, collarette, diffuse dan central; pola pembuluh darah patchy globular dilatation, punctate dilation of vessels, dotted vessles, dan patchy vessels. Pemeriksaan histopatologi merupakan baku emas. Gambaran yang ditemukan yaitu hiperkeratosis, akantosis iregular, parakeratosis fokal maupun konfluens, spongiosis, ekstravasasi sel darah merah di epidermis, sebukan sel radang limfohistiosit di perivaskular dan dermis superfisial, dilatasi pembuluh darah kapiler papila dermis yang tidak seragam. Berbagai terapi PR adalah antihistamin, kortikosteroid, asiklovir, makrolida, dan narrowband UVB (NB UVB) phototerapy. Pemberian asiklovir 5x800mg/hari selama 7 hari aman dan efektif dalam mengobati PR fase awal dengan cara meredakan eritema pada lesi lama dan mengurangi jumlah lesi baru.
Cite
CITATION STYLE
Prayogo, K. P. (2024). Diagnosis and Treatment for Pityriasis Rosea. Media Dermato-Venereologica Indonesiana, 51(3), 125–133. https://doi.org/10.33820/mdvi.v51i3.389
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.