Ulangan 31-34 Sebagai Teks Reflektif untuk Mengantisipasi Post Power Syndrome bagi Pemimpin Kristen

  • Hasibuan S
N/ACitations
Citations of this article
16Readers
Mendeley users who have this article in their library.

Abstract

One of the common challenges faced by long-serving leaders, particularly those who are advanced in age, is post-power syndrome. The transition of leadership from Moses to Joshua presents a valuable model for contemporary Christian leaders to emulate in order to avoid this syndrome. This article aims to reflect on the text of Deuteronomy 31–34, which chronicles the concluding phase of Moses' leadership over the Israelites. Utilizing a literature study method, this research examines the text of Deuteronomy 31–34 through a thorough review of books, journal articles, and other relevant documents. The findings indicate that the narrative of Moses' leadership transition to Joshua offers practical guidance for preventing post-power syndrome. Key preventive measures include recognizing one's own limitations and adhering to divine directives, cultivating self-control and humility, prioritizing the welfare of others, and willingly transferring authority with prayer and a sincere blessing for the successor.Salah satu ‘penyakit’ kepemimpinan yang biasanya dialami oleh pemimpin yang sudah tua dan sudah lama memimpin adalah Post Power Syndrome. Estapet kepemimpinan Musa kepada Yosua menjadi contoh yang baik untuk ditiru oleh pemimpin Kristen masa kini untuk mengantisipasi diri dari Post Power Syndrome. Artikel ini bertujuan memberikan suatu refleksi dari teks Ulangan 31-34 yang merupakan rangkaian narasi akhir kepemimpinan Musa bagi Bangsa Israel. Melalui metode studi literatur dengan melakukan eksposisi teks Ulangan 31-34, peneliti melakukan penelitian teks lewat penelusuran buku, artikel jurnal, dan dokumen lain yang mendukung topik pembahasan. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah narasi estapet kepemimpinan Musa kepada Yosua dapat dijadikan pedoman untuk menghindari atau mengantisipasi Post Power Syndrome. Beberapa tindakan antisipatif yang dapat dilakukan adalah menyadari keterbatasan diri dan perintah Tuhan bagi dirinya; memiliki sikap pengendalian diri dan kerendahan hati; berfokus kepada kepentingan orang lain daripada urusan diri sendiri dan rela menyerahkan otoritas dengan diiringi doa dan restu yang tulus kepada pengganti.

Cite

CITATION STYLE

APA

Hasibuan, S. (2024). Ulangan 31-34 Sebagai Teks Reflektif untuk Mengantisipasi Post Power Syndrome bagi Pemimpin Kristen. Jurnal Apokalupsis, 15(1), 1–24. https://doi.org/10.52849/apokalupsis.v15i1.106

Register to see more suggestions

Mendeley helps you to discover research relevant for your work.

Already have an account?

Save time finding and organizing research with Mendeley

Sign up for free