Abstract
Aedes aegypti (Linnaeus) (Diptera: Culicidae) merupakan serangga vektor utama penyakit demam berdarah. Di Indonesia, cara yang selama ini terbukti efektif untuk mengendalikan Ae. aegypti adalah dengan menggunakan insektisida terutama piretroid, seperti permetrin. Meskipun permetrin telah digunakan sejak tahun 1980an, informasi mengenai status dan perkembangan resistensi Ae. aegypti terhadap permetrin masih terbatas dan perlu dilakukan pembaharuan data. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode uji standar WHO bertujuan untuk mengetahui status dan perubahan tingkat resistensi Ae. aegypti strain lapangan, yaitu Palu, Makassar, Bandung, Bogor, dan strain rentan (VCRU) yang diseleksi dengan permetrin selama lima generasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua strain lapangan telah resisten terhadap permetrin dengan tingkat resistensi tinggi (nilai RR50 yang berkisar antara 10,5 dan 25,7). Strain Bandung memperlihatkan RR50 tertinggi (25,7) dan terendah pada strain Makassar (10,5). Lima strain yang diseleksi mengalami kenaikan tingkat resistensi 5–18 kali lebih tinggi pada F5 dibandingkan dengan parentalnya. Pengetahuan mengenai status resistensi pada area tertentu ditambah dengan pemahaman tentang kecepatan terjadinya resistensi, dapat digunakan untuk merancang program pengendalian vektor yang lebih baik.
Cite
CITATION STYLE
Mantolu, Y. … Ahmad, I. (2016). Status dan perkembangan resistensi Aedes aegypti (Linnaeus) (Diptera: Culicidae) strain Bandung, Bogor, Makassar, Palu, dan VCRU terhadap insektisida permetrin dengan seleksi lima generasi. Jurnal Entomologi Indonesia, 13(1), 1–8. https://doi.org/10.5994/jei.13.1.1
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.