Abstract
Dyspepsia is a common condition characterized by discomfort or pain in the upper abdomen, and can affect quality of life and negatively impact the patient's productivity. The purpose of this study is to analyze the incidence of dyspepsia and its triggering factors. This study used a quantitative, cross-sectional research design and a valid (0.612 - 0.951) and reliable (> 0.90) questionnaire instrument. The prevalence of dyspepsia in this study was 164 people based on data from Puskesmas Narmada. The frequency of knowledge level, consumption of frogs, exercising on an empty stomach, smoking habits, and the begibung tradition did not show a significant relationship with the incidence of dyspepsia in the community (p-value > 0.05). Meanwhile, the incidence of dyspepsia showed a significant relationship with the frequency of consumption of spicy foods, sour foods, fatty foods, raw foods, and coffee, with p-values <0.05. The conclusion of this study is that the frequency of consumption of spicy, sour, fatty, and raw foods, as well as caffeine and drugs, is a risk factor for dyspepsia, especially among patients at Puskesmas Narmada.Dispepsia adalah kondisi umum yang ditandai dengan rasa tidak nyaman atau nyeri pada bagian atas perut, dan dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dan memiliki dampak negatif terhadap produktivitas penderitanya. Tujuan penelitian untuk menganalisis tingkat kejadian dispepsia terhadap faktor-faktor pemicunya di Puskesmas Narmada. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional, dengan instrumen kuesioner yang telah valid (0,612 – 0,951) dan reliabel (> 0,90). Prevalensi kejadian dispepsia pada penelitian ini adalah sebesar 164 orang berdasarkan data dari puskesmas Narmada. Frekuensi tingkat pengetahuan, mengonsumsi hewan satwa kodok, olahraga saat perut kosong, kebiasaan merokok, tradisi begibung tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian dispepsia pada masyarakat (p-value>0.05). Sementara itu, kejadian dispepsia memiliki hubungan signifikan dengan frekuensi konsumsi makanan pedas, makanan asam, makanan berlemak, makanan mentah, mengonsumsi kopi dengan nilai p-value<0.05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah frekuensi konsumsi makanan pedas, makanan asam, makanan berlemak, makanan mentah, kaffein dan obat-obatan merupakan faktor risiko kejadian dispepsia khususnya pada pasien di Puskesmas Narmada.
Cite
CITATION STYLE
Saputri, S. A., Indriani, N., & Kresnapati, I. N. B. A. (2025). Analisis Kejadian Dispepsia terhadap Faktor Pemicunya. Biocity Journal of Pharmacy Bioscience and Clinical Community, 3(2), 69–84. https://doi.org/10.30812/biocity.v3i2.5383
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.