Abstract
Cumi-cumi merupakan salah satu hasil tangkapan yang digemari oleh masyarakat dan merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pada tahun 2017 produksi cumi-cumi di PPN Karangantu mencapai 328 ton atau 14,3% dari total produksi perikanan yang mencapai 2.293 ton. Cumi-cumi yang masuk ke pasar seluruhnya berasal dari hasil tangkapan di alam (laut). Jika hanya mengandalkan usaha dari hasil penangkapan semata, bukan tidak mungkin suatu saat akan terjadi overfishing. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pengelolaan sumberdaya cumi-cumi (Loligo sp.) yang optimal berdasarkan aspek biologi dan ekonomi. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2019. Data time series catch dan effort, harga ikan, dan biaya penangkapan, dianalisis dengan model Gordon-Schaefer untuk menentukan nilai maximum sustainable yield (MSY), maximum economic yield (MEY) dan open access (OA). Hasil analisis bioekonomi didapatkan hasil bahwa keuntungan tertinggi ada pada kondisi MEY sebesar Rp. 2,9 milyar dengan tingkat produksi sebesar 234.423 kg/tahun dan tingkat upaya 2.622 trip/tahun. Jumlah effort tahun 2017 masih berada dibawah nilai EMEY sehingga kegiatan penangkapan cumi-cumi yang berbasis di PPN Karangantu masih menguntungkan.
Cite
CITATION STYLE
Zain, H. Z., Irnawati, R., & Surilayani, D. (2022). Bioeconomic analysis of squid fisheries in the Karangantu fishing port of Banten Province. Jurnal Perikanan Dan Kelautan, 12(1), 34. https://doi.org/10.33512/jpk.v12i1.15589
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.