Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa yang dilakukan oleh pembawa acara dalam talkshow Shabekuri 007 berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson (1987), Ide (1982), serta Mizutani dan Mizutani (1987). Dalam pertuturan, terdapat kemungkinan terjadi suatu tindakan pengancaman muka yang dilakukan masing-masing pihak yang dapat mengganggu kelancaran proses komunikasi, sehingga terdapat aturan-aturan yang membatasi tindakan penutur dan mitra tutur serta strategi yang dilakukan agar terjalin komunikasi yang baik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak bebas libat cakap dan dianalisis menggunakan metode padan pragmatik. Hasil penelitian dijabarkan secara deskriptif. Hasil penelitian ini adalah dari 106 tuturan yang ditemukan terdapat enam penanda kesantunan berbahasa Mizutani dan Mizutani (1987), yaitu perubahan intonasi, penggunaan partikel akhir kalimat, penggunaan kalimat yang terkesan ragu-ragu, aizuchi, pemakaian bahasa Jepang yang santun, dan penyampaian maksud keinginan secara tidak langsung. Berdasarkan aturan kesantunan berbahasa Ide (1982) terdapat 71 tuturan yang mengabaikan aturan tersebut dan 35 tuturan yang memenuhi aturan tersebut. Aturan tersebut terdiri dari berlaku santun terhadap orang yang memiliki kedudukan yang tinggi, kekuasaan yang lebih besar, dan terhadap orang yang lebih tua. Kemudian strategi kesantunan Brown dan Levinson (1987) yang digunakan terdiri dari strategi kesantunan negatif, strategi on-record, strategi kesantunan positif, dan strategi off-record.This study aims to describe the politeness of the language used by the presenters in the Shabekuri 007 based on the theory proposed by Brown and Levinson (1987), Ide (1982), and Mizutani-Mizutani (1987). In speech, there is possibility of a face threatening act by each party that can interfere the communication process, so that there are rules that limit the actions of speakers and partners as well as strategies taken to establish good communication. The data collected with a free-to-talk method and analyzed by pragmatics equivalent method. The research results are described descriptively. The results of this study are that from 106 utterances, it was found that there were six markers of politeness in Mizutani-Mizutani’s (1987), namely intonations, particles at the end of sentences, sentences that seem doubtful, aizuchi, politely Japanese usage, and conveying the intention of the desire indirectly. Based on Ide’s rules of politeness (1982) there are 71 utterances that ignore these rules and 35 utterances that fulfill these rules. The rules consist of being polite to people with higher position, greater power, and to older people. Brown and Levinson's (1987) politeness strategies used consist of negative politeness strategies, on-record strategies, positive politeness strategies, and off-record strategies.
Cite
CITATION STYLE
Muhammad Corel Sadewa, Dwi Astuti Retno Lestari, & Komara Mulya. (2025). ANALISIS KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TINDAK TUTUR PEMBAWA ACARA SHABEKURI 007. Kagami : Jurnal Pendidikan Dan Bahasa Jepang, 16(2), 115–126. https://doi.org/10.21009/kagami.162.05
Register to see more suggestions
Mendeley helps you to discover research relevant for your work.